Divonis Asam Urat Gara-Gara Pete: Salah Pete, atau Salah Kaprah?

Gue pernah ada di titik itu: divonis “asam urat tinggi,” lalu kalimat lanjutannya bikin gue pengin ketawa getir, “Ini karena lo sering makan pete.” Nah, sebagai orang yang hidupnya pernah damai bersama nasi hangat dan pete, gue paham kenapa itu terdengar seperti vonis moral, bukan diagnosis medis. Tapi mari kita rapihin pelan-pelan: pete bisa berperan, iya. Tapi menjadikan pete sebagai tersangka tunggal itu kadang terlalu memanjakan logika yang pengin simpel.
Asam urat itu pada dasarnya produk akhir metabolisme purin. Purin ada di tubuh kita sendiri, ada juga dari makanan. Jadi asam urat tinggi bukan kejadian ajaib, tapi hasil keseimbangan yang lagi nggak akur: produksi naik, pembuangan lewat ginjal turun, atau keduanya kompak bikin masalah (FitzGerald dkk., 2020). Di sini, makanan memang bisa memicu—tapi bukan satu-satunya sutradara.
Pete sendiri sering dituduh karena dianggap “tinggi purin.” Dalam praktik klinis dan edukasi gizi, yang lebih konsisten dikaitkan dengan naiknya risiko gout/serangan asam urat itu biasanya kelompok makanan tertentu: jeroan, beberapa seafood, daging merah dalam porsi besar, serta minuman berfruktosa tinggi dan alkohol (Choi dkk., 2004; FitzGerald dkk., 2020). Pete bisa ikut menyumbang dalam konteks pola makan keseluruhan, apalagi kalau “sering” di sini artinya rutin, porsinya besar, dan disertai faktor lain yang memperberat. Tapi kalau cuma pete doang dijadikan biang kerok, itu seperti menyalahkan satu pemain cadangan atas kekalahan satu tim.
Yang sering luput dibahas adalah faktor-faktor yang jauh lebih “diam-diam mematikan” buat asam urat. Dehidrasi, kurang tidur, stres kronis, berat badan naik, resistensi insulin, tekanan darah, dan fungsi ginjal yang tidak optimal—itu semua bisa mendorong kadar asam urat naik dan memicu serangan (Dalbeth dkk., 2019). Dan ini yang sering bikin gue senyum tipis: orang diminta stop pete, tapi gaya hidup yang bikin metabolisme marah dibiarkan tetap jalan seperti biasa.
Kalau dokter bilang pete jadi penyebab, gue tangkap itu sebagai cara cepat untuk bilang, “Ada faktor diet yang perlu diatur.” Cuma, supaya adil ke tubuh lo, kita perlu narasi yang lebih utuh. Yang bikin asam urat naik biasanya bukan satu item makanan, tapi pola: porsi, frekuensi, kombinasi makanan lain, kebiasaan minum, dan kondisi metabolik lo saat ini. Jadi langkah paling dewasa bukan sekadar “musuhin pete,” tapi mengelola ekosistem hidup lo.
Gue juga perlu bilang ini dengan tenang: “asam urat tinggi” itu dua cerita yang beda. Ada orang asam uratnya tinggi tapi nggak pernah nyeri sendi. Ada juga yang kadar tidak terlalu tinggi tapi gampang kambuh. Gout itu bukan cuma angka; gout itu inflamasi sendi akibat kristal urat—biasanya terasa nyeri hebat, bengkak, merah, panas, sering menyerang pangkal jempol kaki, tapi bisa juga sendi lain (FitzGerald dkk., 2020). Jadi kalau lo “divonis asam urat,” pastikan yang dimaksud dokter itu hyperuricemia (angka lab tinggi) atau gout (penyakit klinis). Beda istilah, beda strategi.
Terus, apa yang bisa lo lakukan tanpa harus hidup tanpa rasa? Pertama, jangan langsung memusuhi pete seperti musuh negara. Mulai dari konsep paling sederhana: kurangi frekuensi dan porsi dulu, lihat respons tubuh, sambil memperbaiki hal yang paling sering dilupakan—hidrasi. Ginjal itu alat buang, bukan alat sulap. Kalau lo kurang minum, urat makin pekat dan peluang masalah makin naik (Dalbeth dkk., 2019). Kedua, cek pola makan lain yang sering diam-diam lebih berat kontribusinya daripada pete: jeroan, seafood tertentu, daging berlebihan, minuman manis, dan kebiasaan “makan enak buat hadiah stres” yang berulang (Choi dkk., 2004). Ketiga, kalau lo sudah pernah serangan nyeri khas gout atau kadar asam urat tinggi berulang, ikuti rencana dokter, karena terapi penurun asam urat itu bukan soal gaya hidup doang, tapi manajemen risiko jangka panjang (FitzGerald dkk., 2020).
Dan yang paling penting: jangan jadikan makanan sebagai kambing hitam tunggal agar kita bisa tetap merasa “gue baik-baik aja kok.” Kadang kita lebih nyaman menyalahkan pete karena lebih mudah mengurangi pete daripada mengurangi kebiasaan hidup yang bikin metabolisme kita protes tiap minggu.
Gue nggak akan bilang pete harus hilang selamanya dari hidup lo. Tapi gue akan bilang ini: kalau tubuh lo sudah kasih sinyal, lo perlu jadi dewasa dalam memilih. Karena yang bikin hidup rusak bukan pete satu piring—tapi kombinasi kebiasaan yang kita anggap sepele, lalu kaget saat sendi atau ginjal mulai “berbicara” dengan cara yang pedas.
Kalau lo mau, kasih gue konteks sedikit: kadar asam urat lo berapa, ada keluhan nyeri sendi atau belum, dan lo makan pete itu seberapa sering. Biar gue bisa bikinin versi artikel yang lebih personal: tetap gaya lo, tapi makin tajam dan relevan.










