“Ortu vs Anak: Ini Bukan Pertandingan UFC, Bro”
Hubungan orang tua dan anak itu memang unik.
Unik karena keduanya sama-sama manusia, sama-sama punya emosi, sama-sama bisa kesel…
tapi nggak boleh main aturan yang sama.
Lo sebagai orang tua boleh capek.
Lo boleh kesel.
Lo boleh hilang kesabaran sesekali.
Tapi lo nggak boleh turun level jadi teman sebaya, apalagi balas dendam emosional ketika anak bikin salah.
Kenapa?
Karena hubungan orang tua–anak itu bukan relasi simetris.
Ini bukan peer relationship di mana dua orang bisa saling adu argumen sampai finish (Laursen, 2011).
Dalam hubungan teman sebaya, lo salah, dia salah, ya diserang balik.
Dalam hubungan ortu–anak?
Kalau ortu ikut-ikutan mukul balik secara emosional, itu namanya bukan didik—itu panik.
Secara psikologi perkembangan, orang tua itu punya positional authority — otoritas berdasarkan usia, pengalaman, dan kapasitas regulasi emosi (Collins, 2005).
Artinya, lo harus lebih dewasa, bukan lebih reaktif.
Harus lebih bijak, bukan lebih petty.
Harus lebih stabil, bukan lebih baperan ketimbang anak yang hormon remajanya baru belajar ngerem.
Anak bikin salah—wajar.
Namanya juga manusia yang masih di tahap uji coba hidup.
Tugas lo bukan mengutuk mereka karena gagal, tapi mengawal mereka supaya nggak tenggelam di kesalahan sendiri.
Karena metode “membalas kesalahan” itu cuma bikin dua hal:
-
anak takut, bukan sadar;
-
anak menjauh, bukan membaik.
Dan anak yang menjauh itu sering tumbuh jadi dewasa yang nggak tahu caranya mendekat.
Satir kecilnya begini:
Kalau ortu balas dendam ke anak, itu bukan parenting. Itu kompetisi toxic yang lawannya bahkan belum finish SMP.
Lagipula, ortu itu posisi final… bukan sparring partner.
Kalau lo turun level, lo bikin struktur keluarga patah.
Kalau lo bertahan di level dewasa, lo bikin anak tahu bahwa ada tempat aman dalam hidup — tempat yang nggak ngehukum, tapi ngearahin.
Dalam teori emotion coaching (Gottman, 1997), anak belajar mengatur emosinya dari cara ortu mengatur emosinya sendiri.
Jadi kalau lo meledak, anak belajar meledak.
Kalau lo sabar, anak belajar tenang.
Kalau lo adil, anak belajar bertanggung jawab.
Kalau lo balas dendam?
Ya… anak belajar bahwa cinta itu punya syarat dan hukuman.
Dan itu warisan paling pahit.
Makanya, meski anak kadang bikin lo naik tensi dua garis,
meski mulutnya bisa bikin lo pengin pensiun dini,
meski sikapnya kadang bikin lo meragukan kualitas genetika sendiri,
ingat satu hal:
Lo tetap orang tuanya.
Lo fondasinya.
Lo yang harus tahan lebih dulu.
Lo yang harus waras lebih dulu.
Karena pada akhirnya, anak bukan butuh orang tua yang sempurna.
Mereka butuh orang tua yang cukup dewasa untuk tidak membalas luka dengan luka,
dan cukup kuat untuk bilang:
“Gue marah. Gue kecewa. Tapi gue tetap orang tua lo — dan tugas gue bukan menghakimi, tapi membimbing.”










