“Anak-Anak Itu Hidup Elo — Jadi Kalau Mereka Hancur, Ya Lo Ikut Remuk”
Ada satu hal yang baru benar-benar lo pahami ketika lo jadi orang tua:
anak-anak itu bukan sekadar bagian hidup lo—mereka adalah hidup itu sendiri.
Dan ini bukan puitisasi berlebihan.
Ini realitas biologis, emosional, dan psikologis yang nyetrum tiap kali lo lihat mereka tidur, mereka jatuh, mereka gagal, mereka sedih, atau mereka tersenyum kayak hidup lo mendadak punya oksigen tambahan.
Makanya, ketika ada orang tua yang tega ngejatuhin anaknya sendiri—secara fisik, verbal, emosional—gue cuma bisa mikir:
“Lo sadar nggak sih, lo juga lagi ngancurin diri lo?”
Secara psikologi keluarga, identitas orang tua itu melebur dengan identitas anak.
Itu namanya intertwined self-concept (Keller, 2014).
Bahasa gaulnya:
kalau hati anak retak, hati orang tua retaknya dobel.
Lo pikir marahin anak sampai jungkir balik akan bikin mereka disiplin?
Nggak.
Itu cuma bikin mereka tumbuh dengan luka yang bentuknya mirip lo—
dan itu ironis, karena lo justru marah ketika melihat versi mini dari trauma yang lo wariskan sendiri.
Anak-anak itu cermin paling jujur.
Kalau mereka hancur,
itu bukan cuma cerita tentang kebodohan atau kesalahan mereka—
itu adalah catatan kaki dari kegagalan orang tuanya.
Makanya lo selalu hati-hati.
Kadang bukan karena lo bijak…
tapi karena lo tahu:
kalau mereka patah, gue juga nggak akan utuh lagi.
Lo bisa kehilangan rumah, kehilangan jabatan, kehilangan duit —
sakit, iya.
Tapi lo masih bisa berdiri.
Cuma ada satu kehilangan yang nggak bisa disembuhin oleh waktu atau logika:
kehilangan anak, baik raganya maupun jiwanya.
Karena begitu jiwa mereka rusak,
seumur hidup lo akan mengajukan pertanyaan yang nggak punya jawaban:
“Di titik mana gue salah?”
Dan pertanyaan itu adalah hukuman paling panjang umur yang bisa diterima manusia.
Sarkas halusnya gini:
orang tua yang tega menghancurkan anaknya itu kayak orang yang mukul kaca sambil lupa bahwa dia yang kena serpihan pertama.
Anak-anak itu fondasi.
Kalau fondasi retak, rumah roboh.
Dan lo adalah rumah itu.
Makanya lo selalu berusaha sabar, meski capek.
Lo selalu mencoba dengar, meski kepala lo mau pecah.
Lo selalu mencoba hadir, meski hidup narik lo ke segala arah.
Lo ngotot banget jaga mereka karena:
kalau mereka baik, lo bisa napas.
Kalau mereka hancur, lo tamat.
Dan itu bukan drama.
Itu insting.
Itu biologi.
Itu cinta paling mentah yang manusia punya.
Pada akhirnya, anak-anak bukan sekadar prioritas.
Mereka itu titik pusat gravitasi hidup lo.
Mereka yang bikin lo bangun, bertahan, dan nggak menyerah.
Dan mereka pula yang, kalau sampai jatuh,
akan menarik lo ikut jatuh ke tempat paling gelap yang orang tua mana pun tak ingin menginjak.
Karena benar apa yang lo rasakan:
Anak-anak itu hidup lo.
Maka melukai mereka sama saja mematikan bagian diri lo yang paling tidak tergantikan.










