“Jika Pergi Membuatmu Utuh, Biarkan Aku Belajar Melepaskan Tanpa Menyalahkan”

Spread the love

Jika memang perjalanan ini terasa terlalu berat buat lo,
gue nggak akan minta lo tetap tinggal sambil nahan sakit.
Bukan karena gue nggak sayang,
tapi karena gue tahu
cinta yang dipaksa cuma berubah jadi penjara yang kita bangun bareng,
tapi kita berdua nggak lagi betah di dalamnya.

Lo bilang gue bikin lo terluka,
dan lucunya… gue nggak bisa menyangkal itu.
Gue bukan nggak mau berubah —
gue udah coba, berkali-kali,
sampai gue capek sama diri gue sendiri
karena setiap usaha gue jatuhnya tetap jauh di bawah standar ideal lo.

Gue selalu merasa begini:
lo butuh versi pasangan yang rapi, stabil, peka, elegan, konsisten
sementara gue hadir sebagai manusia yang masih belajar ngatur hidupnya sendiri.
Bukan alasan, cuma kenyataan yang pahitnya udah gue kunyah sejak lama.

Dan kalau akhirnya semua usaha gue tetap kelihatan kurang,
bukan berarti lo jahat—
mungkin memang kebutuhan lo lebih besar dari kapasitas gue saat ini.
Mungkin lo butuh damai yang gue nggak bisa jaga sepanjang hari.
Mungkin lo butuh kepastian yang gue masih belajar bikin bentuknya.

Makanya…
kalau lo merasa harus pergi,
gue nggak akan menarik lengan lo sambil memaksa lo bertahan.
Gue takut kalau gue nahan lo,
bukannya lo bahagia —
lo malah rusak pelan-pelan cuma karena maksa sayang sama orang yang belum selesai merapikan dirinya sendiri.

Gue sayang lo.
Sangat.
Tapi kadang, sayang yang dewasa adalah sayang yang
nggak egois, nggak memaksa, dan berani mengakui batas kemampuan diri sendiri.

Kalau lo pergi,
gue rela.
Bukan pasrah, tapi sadar.
Sadar bahwa cinta kadang butuh dilepas agar dua manusia tetap waras.

Dan kalau lo tetap tinggal,
gue akan tetap berusaha —
tapi kali ini tanpa pura-pura,
tanpa janji manis,
tanpa ambisi jadi sempurna.
Gue cuma akan jadi gue,
versi yang lagi belajar, versi yang lagi tumbuh,
versi yang tidak ideal tapi tulus.

Karena di dunia yang penuh harapan tinggi dan standar yang sesak,
mungkin yang paling jujur adalah ini:

Gue nggak sempurna. Gue nggak selalu kuat.
Tapi gue selalu sayang.
Dan kalau lo harus pergi untuk bahagia,
gue izinkan — meskipun hati gue ikut patah sedikit.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *