“Nak… Ayah Cuma Mau Lo Tetap Baik-Baik Aja di Sana”
Nak… ayah cuma pengin bilang satu hal sederhana yang entah kenapa terasa berat di dada: semoga Lo baik-baik aja, ya. Kemarin denger Lo lagi nggak sehat, ayah langsung ngerem mendadak dalam hati—padahal jalanan hidup ayah lagi padat merayap. Rasanya kayak ditampar kenyataan bahwa anak yang dulu nggak bisa tidur tanpa nempel ke ayah, sekarang harus sakit sendirian di kota orang.
Padahal, kalau kata para ahli psikologi, ini namanya independent adjustment phase—fase belajar mandiri ketika anak merantau (Arnett, 2014).
Tapi kalau kata ayah mah… ini fase di mana ayah tiba-tiba kangen lo setengah mati.
Ayah ngerti, Lo harus kuliah, ngekos, berjuang sendiri. Dan ayah bangga—bangga banget—karena Lo berani berdiri pakai kaki sendiri. Tapi bangga itu kadang nyamar jadi sedih, karena ayah sadar Lo sekarang jauh, sementara ayah cuma bisa jadi penonton jarak jauh yang menunggu kabar sambil pura-pura nggak khawatir.
Bukan ayah nggak mau nengokin Lo. Bukan ayah nggak sayang.
Tapi ayah ini, Nak… lagi tersandera sama kerjaan.
Kalau mau pakai istilah satir: ayah lagi dipeluk erat oleh tanggung jawab, sampai-sampai nggak bisa gerak.
Ayah kerja mati-matian supaya Lo dan kakak-adek Lo bisa terus kuliah tanpa drama finansial yang tidak perlu. Ironi lucunya: ayah ingin dekat, tapi justru harus bekerja jauh karena rasa sayang.
Tapi jangan pernah pikir Lo sendirian.
Doa ayah itu selalu nyusul kemana pun Lo pergi—lebih cepat dari ekspedisi mana pun.
Kalau Lo batuk, doa ayah udah antre duluan sebelum obat masuk.
Kalau Lo demam, ayah malah ikut panas sendiri entah kenapa.
Begitulah cinta seorang ayah yang sok kuat, tapi hatinya lembek kayak roti tawar kecemplung teh.
Jadi tolong, Nak…
kabari ayah sesering mungkin.
Bukan karena ayah mau ngawasin Lo.
Tapi karena kabar Lo itu macam vitamin anti-panik buat ayah.
Kalau Lo bilang “aku udah minum obat, Yah,” itu setara meditasi 20 menit buat ayah.
Kalau Lo bilang “aku sudah makan,” itu healing.
Kalau Lo bilang “aku udah mendingan,” itu bahagia paling sederhana namun paling ngena.
Nak… ayah bangga sama Lo.
Ayah sedih Lo lagi sakit.
Ayah harap Lo cepat pulih.
Dan ayah cuma ingin Lo tahu:
walaupun Lo jauh, hati ayah nggak pernah pergi dari Lo.










