Guys, ini gue lagi belajar. Tolong kabarin kalau ada yang meleset

Spread the love

Gue makin sadar satu hal: gue bukan orang yang tahu semuanya. Bahkan kadang gue merasa kuper, telat update, atau nggak ngerti konteks yang orang lain anggap “udah umum banget”. Tapi anehnya, itu bukan bikin gue minder—justru itu bikin gue lapar.

Lapar buat tahu.
Lapar buat ngerti.
Lapar supaya otak ini nggak jadi kosan kosong tanpa furnitur.

Dalam psikologi kognitif, rasa ingin tahu disebut epistemic curiosity, dorongan alami buat mengisi celah pengetahuan yang bikin kita nggak tenang kalau ada hal yang belum kita mengerti (Berlyne, 1960). Jadi ketika lo merasa “hampa banget kalau nggak ngerti apa-apa”, itu bukan tanda lo sok tau—itu tanda otak lo masih hidup.

Karena orang yang benar-benar bahaya itu bukan yang kurang tahu.
Tapi yang merasa sudah tahu segalanya.

Gue belajar bahwa jadi manusia itu bukan soal siapa paling pinter, tapi siapa paling mau belajar. Dan mau belajar kadang berarti lo harus rela kelihatan bodoh dulu. Kelihatan nggak ngerti. Kelihatan nanya hal-hal yang orang lain anggap receh.

Tapi justru di situ seni nya:
lebih baik bertanya daripada pura-pura paham.

Makanya gue pakai semua sumber daya yang gue bisa akses. Buku, artikel, jurnal, podcast, obrolan, bahkan AI kayak kebanyakan orang zaman ini. Bukan biar terlihat “wah”. Bukan biar dianggap “si paling ngerti”. Tapi karena gue tahu kapasitas gue terbatas. Dan satu-satunya cara memperluasnya ya: makan informasi tiap hari.

Sebenernya lucu kalau dipikir. Ketika gue share apa yang gue baca, orang kadang salah sangka: “Oh, dia mau nunjukin kalau dia pinter.”
Padahal tujuan gue cuma satu: cross-check.

Validasi. Kroscek. Koreksi.
Apa yang gue cerna ini bener nggak?
Ada bias nggak?
Sahih nggak?
Atau jangan-jangan gue terjebak asumsi?

Dalam teori social learning, manusia itu berkembang lewat interaksi: lo lempar ide, orang lain kasih perspektif, dan dari situ pengetahuan lo makin tajam (Bandura, 1977). Artinya, berbagi itu bukan ajang pamer—itu metode belajar paling tua di dunia.

Dan jujur aja, gue lebih takut jadi orang yang merasa paling tau daripada jadi orang yang lagi belajar. Karena orang yang merasa paling tau itu berhenti berkembang. Sementara gue? Gue cuma nggak mau berhenti lapar.

Karena hampa itu lebih menakutkan daripada salah.

Jadi kalau suatu saat gue sharing hal-hal yang gue baca, percayalah: itu bukan deklarasi kepintaran.
Itu cuma cara gue bilang,
“Bro, ini gue lagi belajar. Tolong kabarin kalau ada yang meleset.”

Dan menurut gue, itu jauh lebih sehat daripada diam, sok paham, tapi sebenarnya kosong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *