Ketika Mitra Lo Bertanya: ‘Lo Pingin Gue Gimana Sama Lo?’ — Jawaban yang Nggak Pernah Sesederhana Kedengarannya”

Spread the love

Ada pertanyaan yang kelihatannya ringan, tapi kalau mampir ke telinga justru bikin hati mendadak penuh suara-suara:
“Lo pingin gue gimana sama lo?”

Pertanyaan ini tuh seperti lemparan bola lembut yang diam-diam mengandung beban ekspektasi. Di satu sisi, ada rasa hangat karena seseorang peduli cukup jauh untuk menanyakan apa yang kita butuhkan. Tapi di sisi lain, pertanyaan itu kayak mengajak kita membuka peta masa depan hubungan sekaligus audit kejujuran batin kita sendiri: sebenarnya… apa sih yang kita harapkan dari dia?

Masalahnya, kita sering lupa bahwa manusia itu bukan aplikasi yang bisa di-set preference:
communication: high,
sensitivity: medium,
drama: low,
understanding: unlimited (andai bisa ya).

Permintaan seperti “Gue maunya lo begini…” sering terdengar sederhana. Padahal, kenyataannya ribet. Karena begitu kita minta orang jadi “begitu,” kita sedang berjalan tipis antara kebutuhan dan kontrol. Di satu titik, kita butuh dipahami. Di titik lainnya, kita harus ingat bahwa setiap orang membawa masa lalu, luka, pola pikir, dan cara hidupnya masing-masing.

Dalam kajian relasi, pertanyaan itu sebenarnya adalah undangan menuju mutual expectations alignment—proses menyeimbangkan dua manusia dengan sejarah berbeda agar bisa berjalan bareng tanpa terlalu sering saling menginjak kaki (Gottman, 1999). Relasi yang sehat bukan tentang mengubah satu pihak menjadi mesin pemenuhan kebutuhan, tapi tentang mencari ritme di tengah perbedaan karakter.

Tapi mari jujur sebentar.
Kadang saat ditanya begitu, kepala kita mulai merancang skenario: lebih perhatian, lebih peka, lebih pengertian, lebih apa pun. Namun di balik daftar itu, sebenarnya ada kalimat yang lebih mendasar:
“Gue cuma pengin lo tidak jadi alasan gue merasa kecil.”

Sementara itu, sisi akademik hubungan manusia mengatakan hal yang sama dengan gaya lebih formal: kita semua butuh secure attachment—rasa aman, diterima, dan dihargai tanpa harus memaksakan diri menjadi karakter lain (Bowlby, 1988).

Dalam dunia nyata, itu artinya kita ingin seseorang tetap jadi dirinya, tapi tidak mengabaikan keberadaan kita. Kita ingin autentisitas, tapi juga responsivitas (Reis & Clark, 2013).
Dengan bahasa lain:
“Jadilah diri lo, tapi jangan lupa gue ada.”

Hubungan yang dewasa itu seperti dua orang yang duduk berdampingan, bukan saling menarik untuk mengubah bentuk. Kita nggak bisa meminta seseorang menjadi versi yang kita desain, tapi kita bisa meminta mereka memberi ruang bagi kenyamanan kita. Kita bisa bicara tentang batas, kebutuhan, dan hal-hal yang bikin kita merasa dihargai—tanpa mengorbankan jati diri siapa pun.

Jadi ketika seseorang menatap kita dan bertanya, “Lo pingin gue gimana sama lo?”
Mungkin jawaban yang paling jujur—dan paling manusiawi—bukanlah daftar panjang permintaan, melainkan sebuah narasi yang sederhana tapi utuh:

“Gue mau lo jadi diri lo sendiri, bukan tokoh yang lo pikir gue mau. Tapi gue juga mau kita sama-sama belajar bagaimana hadir tanpa saling melukai. Gue nggak butuh kesempurnaan, cukup ketulusan.”

Karena hubungan yang sehat bukan dibangun dari dua orang yang berusaha menjadi sosok ideal, tapi dua orang yang berani tampil apa adanya dan mau menyesuaikan diri secukupnya agar perjalanan tetap nyaman untuk keduanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *