The Jogja Way: Filosofi Hidup Pelan yang Justru Memperpanjang Umur

Spread the love

Ada satu hal yang selalu bikin gue senyum kecil setiap kali baca data kependudukan: Jogja itu penuh orang tua yang… ya, masih kuat, masih jalan pagi, masih ngobrol di emperan, masih senyum ke semua orang seolah hidup nggak pernah benar-benar menyakiti. Dan tiap kali gue pulang, rasanya gampang banget ketemu simbah-simbah yang wajahnya adem, jalannya pelan, tapi auranya panjang umur. Lama-lama gue mikir: apa yang sebenarnya bikin orang Jogja bisa hidup sepanjang itu?

Jawabannya ternyata bukan satu hal besar, tapi kumpulan kecil yang saling menyambung kayak puzzle yang dipasang rapi. Jogja itu kan ritmenya pelan—bukan lambat karena malas, tapi pelan karena sadar bahwa hidup nggak perlu ngebut. Para ahli bilang stres kronis bikin umur pendek (Sapolsky, 2004), dan Jogja seakan diciptakan sebagai kota yang mengurangi kebutuhan masyarakatnya untuk panik. Lo jalan tenang, makan tenang, kerja pun tenang, dan suasana itu pelan-pelan membentuk tubuh yang lebih betah hidup.

Lalu ada soal kebersamaan. Jogja itu kota di mana tetangga masih tahu nama lo, masih peduli kalau lo sakit, dan masih nanya “wis mangan durung.” Dukungan sosial kayak gini katanya bisa memanjangkan umur lebih efektif daripada vitamin mahal (Berkman & Glass, 2000). Lansia Jogja itu jarang benar-benar sendirian; mereka selalu punya lingkaran kecil yang memastikan hidup tetap hangat.

Belum lagi pola makan. Di kota ini, makanan sederhana justru yang paling sering ada di meja: sayur ndeso, tempe bacem, thiwul, bubur tradisional, dan semua pangan lokal yang nyaris tidak tersentuh proses industri. Ini sejalan dengan pola makan yang menurut penelitian membantu menjaga kesehatan jangka panjang (Willett, 2001). Dan meski gudeg manis, tetap saja lebih aman ketimbang kopi susu gula satu liter ala kota besar.

Aktivitas fisik? Jangan salah. Jogja bikin orang jalan kaki entah untuk ke pasar, ke kampus, atau sekadar nyari gorengan sore. Banyak yang masih naik sepeda, atau bawa motor pelan karena jalanan penuh mahasiswa yang nyeberang seenaknya. Aktivitas fisik moderat begini justru yang bikin umur panjang (Warburton & Bredin, 2017). Tidak ekstrem, tapi rutin, dan itu cukup.

Tentu, ada juga kekuatan dari budaya. Jogja dibesarkan oleh nilai nerimo, tepo seliro, dan kesadaran bahwa hidup itu bukan soal menang, tapi soal selaras. Nilai-nilai ini bikin orang tua lebih tahan dari tekanan mental; riset antropologi lama sudah menggarisbawahi efek menenangkan dari budaya Jawa (Geertz, 1976; Koentjaraningrat, 1985). Lansia Jogja mungkin tidak tahu istilah “kesehatan mental,” tapi mereka mempraktikkannya setiap hari dalam cara mereka memandang hidup.

Yang sering dilupakan, DIY juga punya akses layanan kesehatan yang relatif baik untuk kota non-ibukota. Tenaga kesehatan cukup, fasilitas cukup, dan kesadaran untuk periksa lebih cepat juga semakin kuat (Riskesdas, 2018). Kombinasi ini bikin penyakit yang seharusnya parah, bisa ditangani sebelum meledak.

Dan terakhir—ini favorit gue—Jogja itu kota yang bikin orang bahagia dengan cara sederhana. Ada penelitian yang bilang kebahagiaan itu sendiri memperpanjang umur (Diener & Seligman, 2004). Mungkin itu kenapa simbah-simbah di Jogja bisa duduk di teras sore-sore, minum teh, lihat langit berubah warna, dan hidupnya terasa cukup. Jogja memberi ruang untuk bernapas, dan ternyata… itu obat.

Jadi kalau banyak orang Jogja yang umurnya panjang, bukan karena mereka punya ramuan rahasia atau jimat simbah. Itu semua hasil dari hidup yang tidak terburu-buru, makanan yang apa adanya, komunitas yang saling menjaga, budaya yang menenangkan, dan kebahagiaan kecil yang datang tiap hari tanpa perlu dicari keras-keras.

Jogja itu tidak membuat umur panjang lewat teknologi, tapi lewat cara hidup yang pelan-pelan mengajari kita bahwa hidup itu bisa berjalan lambat dan tetap memuaskan. Dan mungkin, itu alasan kenapa banyak orang ingin menua di kota ini. Jogja membuat umur terasa bukan hanya panjang—tapi juga pantas untuk dijalani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *