“300 Ribu Jembatan: Mimpi Besar yang Ingin Kita Percayai”

Ketika presiden Prabowo menyebut rencana membangun 300.000 jembatan di pelosok Indonesia, reaksi masyarakat—sejujurnya—beragam banget. Ada yang nyengir bingung, ada yang spontan nanya, “Ini beneran angka atau lagi baca serial nomor lotre?” Tapi di balik segala bisik-bisik skeptis itu, muncul satu hal yang pelan tapi nyata: rasa ingin percaya.
Ada sesuatu yang menyentuh ketika sebuah negara bicara tentang jembatan. Bukan cuma karena bentuknya kokoh atau estetik buat foto. Tapi karena jembatan selalu membawa cerita: tentang anak-anak yang tak lagi harus menembus sungai deras untuk sekolah, tentang ibu-ibu yang bisa membawa hasil panen tanpa drama terseret arus, tentang kampung-kampung yang tiba-tiba tidak lagi terasa seperti titik kecil di ujung peta.
Kita semua tahu, mimpi besar sering datang dengan risiko digelari terlalu ambisius. Angka 300 ribu itu besar—sangat besar. Angka yang bikin orang bertanya apakah pemerintah benar-benar serius atau hanya sedang mencoba memenangkan kategori “Visi Infrastruktur Paling Fantastis Tahun Ini.” Namun, kalau kita telusuri lebih dalam, niat di baliknya tidak bisa kita anggap remeh: memastikan pendidikan dan keselamatan bukan lagi hak istimewa for those who happen to live near a good road.
Satir kadang muncul bukan karena kita sinis, tapi karena kita terlalu sering dikecewakan. Kita pernah melihat proyek yang dimulai megah, tapi berakhir jadi tugu peresmian yang menyedihkan. Kita pernah menyaksikan jembatan yang katanya tahan puluhan tahun, tapi menyerah dihantam banjir pertama. Kita tahu sejarah kekurangan kita—makanya kalau ada angka 300 ribu jembatan, kita refleks memasang mode “waspada tapi penasaran.”
Tapi justru karena kita tahu sejarah itulah, muncul ruang kecil untuk optimisme. Mungkin bangsa ini sedang mencoba sesuatu yang terlalu besar justru karena yang kecil-kecil sering kita abaikan. Mungkin untuk mengubah arah kapal sebesar Indonesia, kita memang perlu mimpi yang ukurannya tidak sopan.
Optimisme ini bukan karena kita percaya semua akan selesai lima menit lagi. Ini lebih seperti perasaan saat melihat langit mendung yang tiba-tiba ada garis biru tipis: kecil, tapi cukup untuk bilang, “Oke, mungkin hari ini nggak sepenuhnya buruk.” Kita ingin percaya bahwa pembangunan ini bukan sekadar headline, tapi benih perubahan.
Kalau nanti benar-benar terwujud, 300 ribu jembatan itu bukan sekadar angka. Itu akan menjadi tanda bahwa negara ini akhirnya bergerak melampaui bicara. Bahwa anak-anak pelosok tidak lagi bersahabat dengan risiko. Bahwa jarak bukan lagi penghalang untuk bermimpi.
Dan kalau pun hasilnya tidak sempurna, kita tetap punya hak untuk berharap bahwa usaha itu meninggalkan bekas yang berarti. Mungkin tidak 300 ribu. Mungkin tidak sesuai timeline. Tapi setiap jembatan yang berdiri tegak adalah pengingat bahwa negara ini, meski penuh cacat dan drama, masih ingin belajar menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan jumlahnya, melainkan arah niatnya. Kita boleh tetap kritis, tetap menjaga akal sehat, tetap punya sedikit sarkas untuk berjaga-jaga. Tapi di sela-sela itu, kita juga boleh membiarkan diri kita optimis.
Karena mungkin benar bahwa jembatan-jembatan itu sedang dibangun bukan hanya untuk menghubungkan desa dengan kota. Tapi juga untuk menghubungkan harapan lama kita dengan kemungkinan baru yang selama ini hampir kita lupakan.
Kalau bangsa ini mau bermimpi, biarlah kali ini kita ikut bermimpi—dengan hati yang tenang, mata yang awas, dan optimisme yang tetap punya kaki menapak tanah.










