HARI INI RSUD JATISARI BERDUKA — SEBUAH REFLEKSI UNTUK SAHABAT YANG PULANG TERLALU CEPAT

Ada hari-hari tertentu dalam perjalanan sebuah rumah sakit ketika langkah seluruh civitas hospitalia terasa lebih berat dari biasanya. Hari ini adalah hari itu. Bukan karena ruang IGD penuh, bukan karena antrian poli menumpuk, tetapi karena salah satu punggawa terbaik kami berpulang lebih cepat dari yang kami sangka.
Kepergian seorang perawat bukan hanya kehilangan seorang tenaga medis. Itu kehilangan sepotong jiwa dari denyut pelayanan. Karena perawat itu bukan sekadar profesi—mereka hadir di detik-detik paling rapuh dalam hidup orang lain. Mereka adalah saksi sunyi dari perjuangan pasien, saksi dari nyeri, harapan, ketakutan, bahkan keajaiban kecil yang muncul tiba-tiba.
Dan hari ini, salah satu dari mereka kembali menghadap Sang Pemilik Hidup.
Ada rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan. Ruang IGD yang biasanya ramai dan penuh dinamika, hari ini terasa punya ruang kosong yang tidak terlihat tapi sangat terasa. Kursi yang dulu ia duduki, langkah cepatnya, senyumnya yang menyambut pasien, ketangguhannya menghadapi malam-malam panjang—semuanya kini berubah menjadi kenangan yang sedang kita genggam erat.
Kepergian sejawat bukan hanya duka, tetapi juga pengingat.
Bahwa profesi kita ini—apa pun jabatannya—adalah perjalanan yang tidak pernah lepas dari risiko, tekanan, dan pengabdian. Kita sering lupa bahwa di balik baju dinas, ada tubuh yang lelah. Di balik senyum pelayanan, ada hati yang kadang rapuh. Di balik profesionalitas, ada manusia yang juga butuh jeda.
Namun anehnya, justru dari sosok-sosok seperti beliau lah kita belajar banyak hal.
Belajar tentang apa arti dedikasi.
Belajar tentang bagaimana bekerja bukan untuk pujian, tapi untuk kemanusiaan.
Belajar bahwa pengabdian itu tidak menuntut panggung—cukup keikhlasan.
Kepergian beliau adalah kesedihan, tapi juga warisan.
Warisan berupa teladan bahwa kebaikan yang dikerjakan dalam diam tidak pernah hilang.
Warisan semangat bahwa merawat itu panggilan, bukan sekadar pekerjaan.
Warisan bahwa setiap pasien yang kita bantu, setiap luka yang kita tutup, setiap kecemasan yang kita redakan, semuanya adalah amal yang diam-diam kembali kepada kita.
Hari ini, kita mungkin menangis. Dan itu wajar.
Karena kita bukan hanya kehilangan sejawat, tapi sahabat.
Seseorang yang pernah berjalan bersama kita di lorong-lorong panjang rumah sakit, berbagi lelah, berbagi tawa, dan berbagi tekad untuk membuat pelayanan lebih baik dari kemarin.
Semoga Allah menerima seluruh amal baik beliau.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan.
Semoga setiap langkah, senyum, dan keringat beliau dicatat sebagai amal yang tidak terputus.
Dan semoga kita—yang masih diberi waktu—tidak lupa bahwa hidup adalah kesempatan yang suatu hari akan kembali dipanggil.
Selamat jalan, sahabat.
Terima kasih telah menjaga pasien, menjaga kami, dan menjaga nama rumah sakit ini dengan pengabdian yang tak pernah setengah hati.
Hari ini RSUD Jatisari berduka.
Tapi di balik duka itu, ada bangga yang tak bisa dihapus:
bahwa kami pernah berjalan bersama seorang pahlawan.










