Ketika Kata-Kata Buruk Menampar Hati Seorang Ayah

Spread the love

Ada satu hal yang sering disalahpahami orang tentang ayah: dari luar terlihat keras, tegar, kayak batu karang; padahal di dalam, hatinya itu lembut banget, gampang retak kalau sudah menyangkut anak-anaknya. Begitu ada seseorang melontarkan kata-kata buruk pada buah hatinya, dunia yang tadinya tenang bisa langsung bergetar hebat.

Dalam psikologi keluarga, ada konsep bahwa figur ayah sering membangun identitas emosionalnya lewat peran sebagai pelindung (Larson, 2018). Artinya, setiap serangan verbal pada anak terasa seperti kegagalan pribadi. Makanya ketika anak pulang dengan mata merah karena dihina, dada seorang ayah bisa terasa sesak, seperti dihantam ombak yang terlalu tinggi untuk ditahan sendiri.

Yang menarik, banyak ayah tidak menunjukkannya secara langsung. Mereka belajar menahan ekspresi sejak kecil, karena budaya maskulinitas mengajarkan diam sebagai bentuk kekuatan (Connell, 2005). Tapi di balik diam itu, ada perang kecil: marah ingin meledak, sedih ingin pecah, takut ingin disembunyikan. Hanya saja semua berputar di kepalanya seperti film yang tidak bisa di-pause.

Dalam momen seperti itu, ingatannya tentang masa kecil sering bermunculan. Ingatan saat dulu ia juga pernah dihina, atau pernah merasa tidak dianggap. Penelitian menunjukkan bahwa memori emosional masa kecil sangat mudah aktif ketika seseorang melihat anaknya mengalami hal serupa (Gerrig, 2014). Jadi rasa sakit yang muncul bukan cuma karena kejadian hari ini, tapi juga luka lama yang ikut terbuka.

Ada juga rasa bersalah. Banyak ayah merasa “harusnya gue bisa cegah ini”, padahal jelas tidak semua bisa dikontrol. Tapi bias internalisasi tanggung jawab membuat orang tua mudah menyalahkan diri sendiri (Miller, 2011). Seolah-olah dunia harusnya aman kalau ia sudah berusaha keras—padahal kenyataan tidak seideal itu.

Namun di balik semua kekacauan emosinya, ada dorongan kuat untuk tetap tenang demi anak. Ayah ingin memastikan anaknya tidak tumbuh dengan pola balas dendam atau kebencian. Naluri ini sesuai dengan temuan bahwa orang tua cenderung memilih respons yang menjaga regulasi emosi anak, meski dirinya sendiri sedang kewalahan (Thompson, 2015).

Kadang ia hanya duduk di samping anaknya, mendengarkan cerita yang patah-patah sambil menahan napas supaya suaranya tidak bergetar. Kadang ia menyelipkan humor receh, pura-pura jadi pahlawan super yang mau “menangkap” siapa pun yang membuat anaknya sedih. Semua itu mungkin terlihat kecil, tapi secara psikologis sentuhan kehadiran orang tua mempercepat pemulihan emosi anak (Coan, 2010).

Di sisi lain, hati ayah juga belajar merelakan. Dunia memang tidak selalu ramah, dan anak-anak perlu membangun ketahanan sendiri. Tapi merelakan bukan berarti membiarkan. Ia tetap mengawasi, tetap memastikan anaknya merasa aman, tetap menyusun strategi bagaimana mengantar anak melewati fase-fase berat dengan kepala tegak.

Yang sering tidak disadari orang adalah bahwa rasa sakit itu pelan-pelan berubah menjadi bahan bakar. Banyak ayah mengubah luka itu menjadi komitmen: menjadi pendengar lebih baik, menjadi penyemangat lebih tulus, menjadi contoh cara menghadapi dunia dengan keberanian lembut. Dalam studi perkembangan moral, model perilaku orang tua terbukti membentuk cara anak menghadapi konflik sosial (Hoffman, 2000).

Pada akhirnya, hati seorang ayah adalah semacam ruang sunyi: luas, penuh gema kekhawatiran, tapi juga hangat dan dipenuhi tekad. Ketika kata-kata buruk menyerang anaknya, ia tidak hanya merasakan sakit—ia merajut ulang cara-cara untuk melindungi dan membimbing. Ia marah, iya. Ia sedih, pasti. Tapi semua itu berputar menuju satu arah: memastikan dunia tidak memadamkan cahaya kecil yang sedang tumbuh di hadapannya.

Dan di balik semua rasa pedih itu, ada satu kata sederhana yang terus bergaung di dalam hatinya: “Selama gue ada, lo nggak sendirian.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *