Ngafal di Usia Mulai Ubanan: Otak Emang Nambah Umur, Tapi Nggak Harus Nambah Lupa

Gue ngerti banget, makin nambah umur, kata “ngafal” kadang kedengerannya kayak tantangan hidup. Bukan karena males, tapi karena otak udah sibuk ngurus banyak hal: anak, kerjaan, cicilan, drama grup WA keluarga, sampe nginget di mana naro kacamata (yang kadang ternyata nempel di kepala). Tapi tenang dulu — secara ilmiah, kemampuan mengingat bisa banget dijaga, bahkan ditingkatkan, asal strateginya bener.
Menurut riset neurologi, kemampuan otak itu plastis alias lentur (Kolb & Gibb, 2014). Artinya: otak orang dewasa tetap bisa belajar dan bikin koneksi baru, asal dirangsang dengan cara yang tepat. Jadi mitos “udah tua susah ngafal” itu… ya, mitos. Yang bener adalah: “udah tua, tapi butuh metode baru.”
Pertama, pahami dulu gaya belajar lo sendiri. Ada yang visual (harus lihat), auditori (harus dengar), kinestetik (harus gerak). Kalau lo suka lihat gambar, bikin mind map atau catatan warna-warni. Kalau lebih senang dengar, rekam suara lo baca ulang materi, terus dengerin sambil nyapu. Kalau kinestetik, belajar sambil jalan kaki — serius, riset bilang gerak fisik bantu otak ngunci memori (Ratey, 2008).
Kedua, pakai teknik chunking — atau bahasa simpelnya, potong kecil-kecil. Otak itu nggak suka makanan besar. Kalau lo coba hafalin satu paragraf utuh, otak langsung nge-freeze. Tapi kalau dipecah jadi bagian pendek, diulang berkali-kali, otak langsung bilang “oke, bisa nih!” (Miller, 1956).
Ketiga, pakai asosiasi kocak. Hubungkan hal yang lo hafalin dengan sesuatu yang lucu, absurd, atau dekat sama hidup lo. Misal mau ngafalin obat, hubungin sama nama artis, makanan, atau peristiwa aneh. Otak manusia cinta hal nyeleneh — karena makin aneh, makin gampang nempel (Bower & Clark, 1969).
Keempat, jangan anggap belajar itu serius banget. Otak lebih gampang nyerap informasi dalam suasana santai. Itu sebabnya, ngafal lagu jaman dulu aja masih inget, tapi isi undang-undang satu pasal aja langsung hilang. Musik, emosi positif, dan tawa kecil bisa bikin proses encoding memori lebih kuat (Ashby et al., 1999). Jadi, belajar sambil senyum itu bukan gimmick, tapi strategi biologis.
Kelima, istirahat dan tidur. Bukan karena males, tapi karena saat tidur, otak lo lagi kerja bakti: mindahin informasi dari memori jangka pendek ke jangka panjang (Diekelmann & Born, 2010). Jadi kalau ngantuk pas belajar, itu bukan dosa. Itu sinyal upgrade sistem.
Yang paling penting: percaya dulu kalau lo masih bisa.
Neurosains udah buktiin, otak bisa terus belajar sampai usia berapa pun (Park & Reuter-Lorenz, 2009). Selama lo punya rasa ingin tahu dan kemauan nyoba, kemampuan ngafal lo nggak akan kemana-mana.
Jadi buat para orang tua yang bilang, “ah, saya udah nggak bisa ngafal,”—tolong ubah narasinya jadi, “saya cuma perlu cara baru buat ngafal.” Karena otak lo bukan rusak, cuma butuh cara baru diajak ngobrol.
Dan kalau masih lupa juga… ya nggak apa-apa. Kadang yang kita ingat justru yang penting: rasa ingin belajar, bukan sekadar hasil hafalan.










