Gue yang Sekarang, Masih Gue yang Dulu — Tapi Dalam Versi yang Lebih Ngeklik Buat Diri Sendiri

Spread the love

Kadang orang suka bilang, “Lo berubah ya?”
Padahal kalau dipikir-pikir, gue nggak merasa berubah ke arah yang asing. Gue tuh masih gue. Masih pakai kepala yang sama, hati yang sama, humor receh yang sama, dan cara mikir yang kadang belok kiri padahal harusnya lurus. Bedanya, gue ngelakuin semua itu dengan kesadaran yang lebih penuh.

Gue yang sekarang bukan hasil pencitraan, bukan upgrade demi dapet persetujuan siapa pun, dan bukan juga versi “memaksa jadi dewasa” yang sering orang sebut. Gue cuma lagi jadi versi terbaik gue — bukan buat orang lain, tapi buat gue sendiri.

Dulu gue sering ngerasa kayak hidup itu perlombaan. Harus nyampe duluan, harus dapet lebih dulu, harus dilihat, harus dianggap. Tapi makin ke sini, gue sadar bahwa hidup bukan tentang “jadi lebih dari orang lain”, tapi “jadi lebih deket sama diri sendiri.” Yang penting bukan siapa yang lo kalahin, tapi siapa yang lo rangkul dalam diri lo sendiri.

Progres gue mungkin nggak heboh. Nggak selalu kelihatan. Tapi gue ngerasainnya:
cara gue mikir lebih tenang, cara gue ngomong lebih hati-hati, cara gue nanggapi sesuatu lebih matang, dan cara gue milih orang serta lingkungan lebih bijak.

Gue yang dulu masih ada, tapi dengan lapisan kesadaran tambahan yang bikin gue lebih ngerti kapan harus maju, kapan harus mundur, kapan harus diem, kapan harus speak up.

Yang lucu, versi terbaik itu ternyata bukan versi yang bikin semua orang suka sama gue.
Justru versi yang kadang bikin beberapa orang nggak cocok lagi.
Dan itu nggak apa-apa.
Karena akhirnya gue ngerti: nggak semua orang harus ikut tumbuh bareng lo.

Gue tetap orang yang sama… tapi kali ini, gue membela diri gue lebih dulu.
Gue menjaga diri gue lebih dulu.
Gue sayang sama diri gue lebih dulu.

Dan entah kenapa, itu cukup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *