Saat Peduli Jadi Titik Awal: Mengubah Stunting dari Isu Nasional Jadi Tanggung Jawab Bareng-Bareng

Gue nulis ini bukan supaya lo panik.
Gue nulis ini supaya lo peduli.
Karena peduli itu titik awal dari semua perubahan besar yang pernah ada di dunia.
Kadang gue ngerasa kita ini bangsa yang gampang banget heboh sama hal-hal besar, tapi susah banget berhenti sejenak buat lihat hal kecil yang justru menentukan masa depan: tumbuh kembang anak-anak kita sendiri. Kita sibuk ngomongin politik, debat warisan budaya, ribut soal siapa salah siapa benar—tapi ketika ada isu stunting lewat di beranda, kita cuma ngangguk, lalu scroll lagi. Padahal, stunting itu bukan isu jauh di pelosok; ini bisa kejadian di rumah sebelah, di keluarga sendiri, bahkan di generasi yang nanti bakal nerusin hidup bareng kita.
Gue cuma pengen ngingetin, pelan tapi tegas: masa depan bangsa itu bertumbuh, bukan tiba-tiba muncul. Dan pertumbuhan itu dimulai dari anak-anak kecil yang sering kali malah kita anggap biasa-biasa aja. Kita lihat anak tetangga yang kurus, diem, nggak aktif, terus bilang, “Namanya juga anak kecil, nanti juga gede.” Padahal enggak selalu begitu. Kadang yang “nanti juga gede” itu cuma harapan kosong yang nutupin masalah yang nggak kita sentuh.
Stunting itu bukan sekadar kekurangan gizi; ini tanda bahwa seorang anak nggak dapat kesempatan penuh untuk jadi versi terbaik dirinya. Otaknya bisa berkembang setengah dari potensinya. Tenaganya kurang. Kemampuannya terbatasi. Dan semua itu terjadi pelan-pelan, dalam senyap, tanpa drama—tapi efeknya bisa kebawa seumur hidup. Bukan cuma ke keluarga, tapi ke masyarakat. Ke kita semua.
Makanya gue nulis ini buat ngetuk pintu kesadaran kita bareng-bareng.
Bukan buat nge-judge, bukan buat ceramah, tapi buat nyadarin bahwa kita sebenarnya bisa banget berkontribusi. Dan kontribusi itu nggak harus megah. Nggak harus lu punya gelar. Nggak harus lu jadi pejabat. Bahkan nggak harus lu punya anak.
Kontribusi itu bisa sekecil ngingetin tetangga buat bawa anaknya ke posyandu.
Bisa sesederhana bilang ke saudara yang lagi hamil supaya makan teratur, bukan cuma ngemil mi instan.
Bisa sebanyak memastikan anak kecil di sekitar kita nggak dibiarin minum kopi atau makan makanan aneh karena “tradisi keluarga”.
Bisa berupa berhenti nyebar hoaks soal vaksin atau MPASI.
Bisa lewat jadi orang yang mau belajar sedikit—sekecil apa pun.
Gue percaya setiap masyarakat yang peduli itu ibarat nyala lilin. Kecil, tapi kalau barengan, jadi terang. Kita mungkin nggak bisa berubahin dunia dalam semalam, tapi kita bisa mulai dari satu anak. Satu keluarga. Satu obrolan. Satu tindakan kecil yang akhirnya bisa mengubah arah generasi.
Dan kalau hari ini kita mulai peduli… besok-besok mungkin kita bakal lihat bangsa ini tumbuh lebih tinggi, lebih kuat, lebih sehat—bukan karena slogan pemerintah, tapi karena kita semua ikut jaga generasi yang benar-benar butuh kita.










