IGD: Antara Ngejar Nyawa, Ngejar Kantuk, dan Ngejar Kepercayaan Masyarakat

Spread the love

Kerja di IGD itu tempat paling random sedunia. Ada hari ketika pasien datang kayak gelombang pasang—nggak kasih jeda, nggak kasih napas, nggak kasih kesempatan buka tutup mata. Tapi ada juga hari ketika lo cuma duduk, ngetok-ngetok meja, dan sadar satu-satunya makhluk hidup yang lo hadapi selama dua jam terakhir cuma… nyamuk. Dan itu pun kalah licin.

Gue selalu bilang, IGD itu bukan soal rame atau sepi. Itu sudah risiko yang gue ambil waktu gue mutusin masuk dunia kesehatan. Tapi ada satu hal yang selalu jadi inti dari semuanya: masyarakat mempercayakan hidup mereka ke kita di momen paling darurat. Dan itu jauh lebih berat daripada sekadar jumlah pasien.

Di foto itu, suasananya mungkin kelihatan tenang. Klinik atau IGD sedang nggak ramai. Mobil ambulans parkir santai, udara mendung enak buat rebahan. Tapi di balik ketenangan itu, ada denyut yang cuma tenaga kesehatan ngerti: “siap-siap, situasi bisa berubah kapan aja.” Di dunia emergensi, lima menit tenang itu cuma jeda, bukan jaminan.

Dan jujur, bagian paling manusiawi dari kerja shift IGD itu bukan capeknya, tapi ritme tidur yang hancur. Kita sama-sama kurang tidur, tapi beda alasan.
Pasien kurang tidur karena keluhannya nggak kelar-kelar.
Tenaga kesehatan kurang tidur karena takut kebablasan molor.

Lo tidur 15 menit, tapi alarm batin lo nyala kayak maling sensor: “Bangun! Pasti ada yang manggil!” Bahkan kalau nggak ada apa-apa, lo bangun karena otak lo panik, “waduh, jangan-jangan pasien numpuk.”

Dan di sisi lain, ada momen rame ketika pasien datang kayak antrean BLT—nggak putus, nggak selesai-selesai, tiap lo geser satu kasus, lima lagi masuk. Lo minum air lupa, makan lupa, duduk pun jarang sempat. Tapi anehnya, di tengah kekacauan itu, ada rasa “ini memang tempat gue”. Karena IGD itu bukan tentang glamornya profesi; ini tentang hadir ketika orang paling butuh.

Yang bikin gue nyaman adalah rasa kepercayaannya. Masyarakat datang ke IGD bukan buat gaya-gayaan. Mereka datang karena cemas, takut, panik, atau merasa nggak aman. Dan di titik itu, hadir sebagai tenaga kesehatan berarti lo lagi jadi jangkar. Kadang solusi kita sederhana, kadang emergensinya beneran tinggi, tapi tugasnya sama: bikin mereka merasa nggak sendirian.

Akhirnya gue sadar, IGD itu adalah tempat paling jujur tentang kemanusiaan. Lo nggak bisa pura-pura. Lo cuma bisa kerja dengan hati, cepat, dan tetap waras meski napas lo tersisa dua baris.

Rame disyukuri. Sepi dinikmati.
Begadang diterima. Pingsan dikit bahaya.
Tapi apapun bentuk harinya, IGD selalu ngajarin gue satu hal:

Kepercayaan manusia adalah hal paling mahal yang bisa lo jaga dalam gelapnya dini hari.

Dan itu, buat gue, selalu cukup buat bangun berkali-kali dari kantuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *