DRAMA : Ketika Jaga Malam Menguji Tenaga, Tapi Kemanusiaan Bikin Lo Bangun Lebih Cepat dari Alarm

Ada satu jenis kantuk yang cuma dipahami tenaga kesehatan: kantuk setelah seharian badan kepake rapat maraton, ditambah tugas jaga malam yang belum tentu bisa ditebak ritmenya. Dan malam itu, gue lagi ada di fase tewas sementara—tidur pulas di ruang jaga karena pasien lagi agak kendor.
Sampai akhirnya…
tok tok tok.
Pintu diketuk.
Lo tahu momen itu kan? Antara nyawa belum balik, mata masih lengket, dan sisi manusiawi pengen ngomel dikit. Tapi jaga malam nggak pernah nunggu mood. Begitu gue buka pintu, perawat bilang ada pasien datang.
Dan pasiennya?
Bayi umur setahun.
Dibawa orang tuanya yang masih muda—sekitar usia 25 tahunan—dengan wajah panik tapi lugu.
Mereka datang pagi buta, cuma karena si kecil rewel, nggak bisa tidur, dan mereka bingung harus gimana.
Di momen itu, semua kesel yang muncul sepersekian detik langsung turun. Bukan karena gue superhero. Tapi karena ada sesuatu yang berubah begitu lo lihat seorang bayi nangis tengah malam, dan orang tua muda berdiri dengan campuran takut, bingung, dan rasa bersalah.
Ada hal-hal yang secara insting bikin lo hadir sebagai manusia dulu sebelum profesi.
Sebagai dokter, gue tahu betul bahwa orang tua baru sering overthinking kalau anaknya rewel. Rewel bisa jadi gejala, bisa juga cuma fase tumbuh, bisa juga capek, bisa juga udara dingin, bisa juga overstimulated. Tapi buat mereka, itu terasa darurat. Dalam psikologi keluarga, pengalaman pertama mengurus bayi memang bikin sistem alarm tubuh orang tua jadi hiperaktif (Feldman, 2007). Jadi wajar kalau mereka baru berani datang ketika udah nggak sanggup lagi.
Dan gue? Gue cuma harus memastikan bahwa gue ada di sana dengan kepala yang cukup waras buat membantu.
Gue periksa si kecil. Gue lihat napasnya, suhu badan, responsnya, hidrasi, tanda-tanda sakit. Gue cek semuanya dengan ritme yang udah otomatis terbentuk dari pengalaman jaga. Di ujung pemeriksaan, gue jelasin pelan-pelan ke orang tuanya: apa yang normal, apa yang harus diperhatikan, apa yang nggak perlu ditakuti, dan kapan harus segera balik lagi kalau ada tanda bahaya.
Gue lihat mata mereka berubah sedikit—dari panik jadi lega. Dari takut jadi tenang. Dari bingung jadi paham.
Dan di momen kayak gitu, gue sadar satu hal yang selalu gue ulang ke diri sendiri:
jaga malam itu bukan cuma soal begadang dan menang melawan kantuk. Tapi tentang hadir di saat seseorang paling butuh tempat bertanya.
Kadang mereka datang bukan karena penyakitnya parah, tapi karena cemasnya nggak tertahankan. Dan lo, yuk, sebagai dokter, jadi orang yang bikin kecemasan itu reda.
Akhirnya, ketika mereka keluar ruang periksa sambil mangku bayi yang mulai tenang, gue ngelihat diri gue sendiri: capek, iya. Kantuk, jelas. Tapi hati gue rasanya penuh. Kayak diingatkan bahwa meskipun jaga malam itu menguras fisik, ada sisi kemanusiaan yang selalu ngebuat gue bangun lebih cepat dari alarm.
Dan kadang… itu cukup.










