ME TIME SAAT REHAT TIME

Spread the love

Jam istirahat di kantor siang itu kelihatan biasa aja kalau lo cuma lewat sekilas. Tapi begitu gue duduk sebentar dan merhatiin suasananya, ada pemandangan yang cukup bikin senyum: deretan karyawan autis lagi santai dengan gadget masing-masing, tenggelam di dunia game dan scroll medsos seolah dunia luar lagi di-pause dulu.

Ruangannya tenang tapi bukan yang kaku—lebih kayak “tenang versi nyaman”. Lo tahu kan? Suasana di mana tiap orang sibuk sama hal yang mereka suka, tapi tetap kerasa hangat. Mereka duduk santai, layar nyala, jempol jalan, dan ekspresi kecil muncul tiap kali game-nya seru atau feed-nya lucu.

Yang bikin gue betah ngeliatnya adalah cara mereka menikmati waktu istirahat. Nggak ada basa-basi yang terpaksa, nggak ada keharusan ngobrol. Masing-masing menenangkan diri dengan cara yang mereka pilih. Dan itu vibe yang jarang: sepi, tapi bukan sepi yang bikin kikuk—lebih kayak sepi yang bikin lega.

Kadang mereka ketawa kecil karena game, kadang cuma fokus dengan mata yang nggak mau lepas dari layar. Dan lucunya, meskipun semua sibuk dengan gadget, suasananya tetap terasa akrab. Kayak mereka saling ngerti tanpa perlu ngomong banyak.

Di tempat lain, jam istirahat mungkin diisi obrolan panjang atau nongkrong rame-rame. Tapi di ruangan ini, istirahat itu bentuknya simpel: recharge energi lewat hal yang bikin nyaman. Pilihan itu valid banget, apalagi tiap orang memang punya cara sendiri buat tenang.

Gue mikir, mungkin ini salah satu sisi dunia kerja yang jarang disorot. Bahwa “istirahat” nggak harus sesuai satu pola. Dan kalau aktivitas digital bikin kepala adem, ya kenapa nggak? Dunia kerja yang baik itu kan yang kasih ruang buat orang bernapas.

Yang bikin suasana makin menarik adalah ketenangan mereka yang stabil. Game rame? Notifikasi bunyi? Mereka tetap anteng. Fokusnya kuat, tapi bukan karena terpaksa—lebih kayak mereka menikmati momen hening yang jadi hak mereka.

Gue jadi sadar, kadang kita terlalu ribut soal “cara istirahat yang benar”, padahal kenyataannya semua orang punya versi masing-masing. Dan ruangan kecil ini nunjukin itu tanpa teori apa pun—cuma lewat pemandangan sederhana: beberapa orang yang nyaman dengan cara mereka sendiri.

Istirahat kayak gini mungkin kelihatan sepele, tapi justru di sini kerasa bahwa ruang aman itu penting banget. Tempat di mana lo bisa jadi diri sendiri, ngatur napas, dan kumpulin energi tanpa ada ekspektasi aneh-aneh dari sekitar.

Akhirnya, pas gue keluar ruangan, gue cuma mikir: kadang yang kita butuh di jam istirahat bukan kopi, bukan obrolan panjang, tapi momen pendek di mana kepala bisa tenang. Dan pemandangan karyawan autis yang khusyuk dengan gadget-nya itu adalah pengingat sederhana bahwa setiap orang punya cara terbaik buat bertahan, berkembang, dan menjalani hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *