MALAS BACA, MENDING SCROL YG TRENDING

Spread the love

Kadang gue mikir, kenapa sih banyak orang malas baca? Bukan karena mereka nggak mau pintar, tapi karena otak manusia emang suka jalan pintas. Cognitive ease bikin kita otomatis memilih yang paling ringan, termasuk lebih milih denger atau baca rangkuman orang lain ketimbang ngulik sumber asli yang panjang (Kahneman, 2011). Jadi, bukan semata malas—ini cara otak bertahan di tengah banjir informasi.

Di era scroll tanpa henti, perhatian kita direcoki konten cepat yang manis tapi dangkal. Notifikasi, video pendek, dan thread instan bikin dopamin naik turun kayak roller coaster (Alter, 2017). Akibatnya, artikel panjang terasa kayak mendaki bukit tanpa alasan. Bukan karena nggak menarik, tapi karena otak udah kebentuk buat hidup dalam tempo pendek.

Lucunya, banyak orang justru lebih percaya ringkasan versi orang lain. Ini efek social proof—kita merasa aman ngikut suara mayoritas (Cialdini, 2006). Kalau teman lo semua cuma baca cuplikan, lo ikut. Kalau influencer ngomong ini penting, lo anggap valid. Padahal itu cuma opini yang udah difilter dari sudut pandang mereka.

Sementara itu, budaya multitasking ngrusak kemampuan deep reading kita. Hidup serba cepat bikin fokus jadi barang mewah. Penelitian menunjukkan kapasitas membaca mendalam menurun ketika otak kebiasa lompat dari satu konten ke konten lain (Wolf, 2018). Kita beralih dari “merenung” ke “menyikat informasi”.

Algoritma juga punya andil. Platform digital lebih sering ngasih kita konten singkat, emosional, dan gampang viral. Jadinya, pengetahuan yang matang dan panjang tenggelam di bawah gelombang konten instan. Bukan karena nggak ada yang mau baca, tapi karena algoritma nggak ngizinin bacaan itu nongol duluan.

Industri konten pun semakin mendorong gaya “serba ringkas”. Kreator dikejar engagement, bukan kedalaman. Akhirnya, informasi yang lo terima banyak yang udah dipotong, dipoles, dan ditafsirkan ulang. Kenyang sih, tapi gizinya tipis. Kayak ngemil terus tapi lupa makan.

Masalahnya, kalau kita terus bergantung pada versi orang lain, kita makin jauh dari kemampuan berpikir kritis. Kita bukan cuma kehilangan perspektif, tapi kehilangan kendali atas cara kita memahami dunia. Lo hidup pakai kacamata orang lain, bukan pandangan lo sendiri.

Kalau lo pengen balik lagi ke pengetahuan yang “bermakna”, coba perlahan. Baca 10 menit sehari, pilih teks yang bikin lo penasaran, bukan yang bikin lo terpaksa. Biar lambat tapi nancep. Karena di akhir hari, pengembangan diri bukan soal seberapa cepat lo tahu sesuatu, tapi seberapa dalam lo ngerti dan ngeresapin itu sebagai bagian dari diri lo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *