GUE merasa PEDE, ya udah fokus aja pede !

Spread the love

Kadang lo capek sendiri karena ngerasa dunia selalu punya komentar tentang hidup lo, kerja lo, bahkan cara lo napas. Tapi kalau kita tarik napas sebentar dan lihat dari kacamata psikologi yang serius, ada satu prinsip yang konsisten muncul di banyak penelitian: orang yang fokus ke proses diri—bukan suara luar—punya stabilitas mental yang lebih kuat. Julian Rotter udah ngomongin ini sejak 1966 lewat konsep internal locus of control, yang pada dasarnya bilang, semakin lo ngerasa kendali hidup ada di tangan lo, semakin lo tahan banting sama omongan orang.

Di sisi lain, para peneliti motivasi kayak Deci & Ryan (2000) dalam Self-Determination Theory juga ngejelasin bahwa sumber motivasi terbaik itu datang dari dalam diri: rasa pengen berkembang, pengen ngerti hal baru, dan pengen lebih kompeten. Bukan dari pujian orang, likes, atau komentar random yang kadang penuh bias. Jadi ketika lo milih fokus sama proses lo sendiri, lo sebenernya lagi align sama mekanisme motivasi paling sehat yang ditemukan psikologi modern.

Kalau kita ngomong soal mindset, Carol Dweck (2006) lewat teori growth mindset nunjukin bahwa orang yang lebih peduli proses—usaha, strategi, cara belajar—punya performa yang jauh lebih stabil dibanding orang yang cuma ngejar validasi. Ini bukan cuma teori manis. Penelitian empiris bener-bener nunjukin bahwa fokus proses bikin lo lebih tahan sama kritik dan kegagalan.

Masuk ke wilayah emosi, James Gross (1998) dalam model emotion regulation ngejelasin bahwa kemampuan ngatur fokus pikiran lo punya dampak langsung ke regulasi stres. Jadi waktu lo mindahin fokus dari “apa kata orang” ke “apa yang lagi gue kerjain dan kenapa gue kerjain”, lo sebenernya lagi nurunin tekanan fisiologis di tubuh lo. Ini bukan trik motivasi murahan—ini mekanisme sistem saraf.

Lo dan gue juga sama-sama tahu bahwa lingkungan sosial kadang nggak ngasih ruang yang aman. Amy Edmondson (1999) lewat konsep psychological safety nunjukin kalau orang lebih berkembang kalau mereka nggak ngerasa terus-menerus dihakimi. Tapi kalau lingkungan lo belum supportive, mempertahankan fokus internal jadi semacam anchor yang nyelametin lo dari badai opini yang nggak jelas arahnya.

Dalam konteks budaya, Harry Triandis (1995) ngejelasin bahwa beberapa masyarakat punya tekanan kolektif yang tinggi, yang bikin orang lebih mikirin omongan sosial. Tapi penelitian juga bilang orang tetap bisa membangun orientasi internal lewat refleksi, tujuan personal, dan keputusan yang otonom. Jadi meskipun lo hidup di lingkungan yang “kata orang” itu dianggap sakral, lo tetap punya ruang buat ngarahin diri ke dalam.

Fokus ke proses juga berarti lo ngeliat kerjaan dan hidup lo sebagai perjalanan, bukan panggung kompetisi. Lo ngehargain setiap usaha kecil yang lo lakuin, bukan cuma hasil besar yang bisa bikin orang lain terkesan. Bahasa akademisnya, ini bikin lo punya mastery orientation, yang secara konsisten dikaitkan dengan performa jangka panjang yang lebih stabil.

Ada hal menarik dari literatur kognitif-behavioral juga. Pendekatan CBT (Beck, 2011) nunjukin bahwa pikiran negatif tentang penilaian sosial sering kali bias dan nggak didukung data. Ketika lo fokus ke proses, lo otomatis nge-cut supply buat pikiran-pikiran bias itu. Lo jadi lebih grounded, lebih realistis, lebih objektif.

Tapi penting diinget: fokus ke proses bukan berarti nutup kuping total dari feedback. Standar etika profesional kayak APA Ethical Principles (2017) bilang bahwa feedback itu perlu untuk peningkatan kualitas kerja. Bedanya, lo nerima feedback buat berkembang, bukan buat memenuhi ekspektasi orang yang bahkan nggak ngerti perjalanan lo.

Dan ya, tetap ada keterbatasan. Kalau lingkungan lo toxic, rasa fokus ke diri sendiri bisa terganggu karena tekanan sosialnya terlalu intens. Penelitian tentang social evaluation threat nunjukin bahwa otak manusia bereaksi kuat terhadap risiko dihakimi. Jadi kalau lo tetap susah fokus ke proses, itu bukan berarti lo lemah—kadang lingkungan memang terlalu menekan.

Beberapa pekerjaan juga memang mensyaratkan evaluasi publik, jadi mengabaikan seluruh opini nggak realistis. Yang lo butuh adalah kemampuan memilah mana masukan relevan dan mana noise yang nggak punya dasar. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan memilah ini termasuk skill regulasi diri yang bisa dilatih.

Meski begitu, bukti ilmiah tetap konsisten: orang yang menjadikan proses sebagai pusat hidupnya punya kesejahteraan psikologis lebih baik, motivasi lebih stabil, dan performa jangka panjang yang lebih konsisten. Intinya, “fokus proses” itu bukan slogan, tapi mekanisme ilmiah yang udah dibuktikan lintas dekade.

Dalam praktik sehari-hari, lo bisa mulai dengan nge-set tujuan yang berbasis usaha, bukan hasil. Lo bisa bikin jurnal progres supaya pikiran lo punya data objektif tentang apa yang sebenarnya lo capai. Lo bisa nge-shift pikiran tiap kali kecemasan tentang penilaian orang muncul, dan balik lagi ke pertanyaan dasar: “Sebenernya gue lagi ngapain, dan kenapa?”

Ketika lo mulai lebih nyambung sama proses lo sendiri, lo bakal ngerasa lebih merdeka. Bukan karena dunia tiba-tiba berhenti komentar, tapi karena komentar itu nggak lagi punya kuasa yang sama. Lo geser pusat kontrol balik ke tangan lo sendiri. Lo bikin keputusan berdasarkan nilai yang lo pegang, bukan noise di luar sana.

Pada akhirnya, fokus sama proses lo itu semacam bentuk self-respect. Lo menghargai perjalanan lo, usaha lo, dan arah hidup yang lo bentuk sendiri. Dan secara psikologis, data ilmiah nunjukin bahwa itu fondasi yang paling tahan lama buat berkembang, buat tenang, dan buat hidup lebih stabil walaupun dunia di luar tetap berisik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *