PEDE DI KANTOR : susah ya ?

Percaya diri di kantor itu kadang kerasa kayak roller coaster: ada hari lo ngerasa jago banget, ada hari lo ngerasa kayak cuma numpang Wi-Fi. Tapi kalau kita tarik ke level yang lebih akademik, percaya diri sebenernya bukan soal “gaya”, tapi soal self-efficacy — istilah psikologi dari Albert Bandura (1977, 1997) yang intinya ngomongin keyakinan lo buat ngerjain tugas tertentu. Artinya, pede itu bukan bawaan lahir, tapi hasil pengalaman, lingkungan, dan cara lo nge-handle stres. Jadi kalau lo sering merasa goyang di kantor, itu bukan berarti lo kurang hebat — mungkin lo cuma belum punya “bahan bakar” self-efficacy yang cukup.
Di sisi lain, ada konsep psychological safety dari Amy Edmondson (1999) yang bilang bahwa orang bakal lebih berani speak up, ngambil inisiatif, dan merasa kompeten kalau lingkungannya aman secara psikologis. Jadi bukan cuma masalah “lo nya kurang pede”, bisa jadi ruang kerjanya emang nggak supportive. Ini poin penting, karena banyak orang nyalahin diri sendiri padahal faktor organisasi punya peran gede.
Dari sudut pandang ilmiah, kepercayaan diri di kantor banyak dipengaruhi keberhasilan kecil yang lo ulang terus-terusan. Bandura nyebut ini “mastery experiences” — makin sering lo berhasil, makin kuat self-efficacy lo. Makanya, kadang solusi paling simpel itu bukan motivasi ekstra, tapi bikin target kecil yang jelas dan achievable, lalu lo kumpulin keberhasilan itu kayak lo nabung receh.
Feedback juga punya power gede. Studi Kluger & DeNisi (1996) nunjukin bahwa feedback konstruktif bisa ngedorong peningkatan performa dan rasa kompeten. Jadi kalau lo sering merasa bingung atau insecure tentang kualitas kerja lo, bisa jadi bukan karena lo nggak capable — tapi karena info balik yang lo terima kurang jelas. Gue dan lo sama-sama tau kan, feedback “udah oke kok” itu nggak pernah bener-bener bikin pede.
Dari sisi emosi, regulasi stres itu bukan hal remeh. James Gross (1998) dalam teorinya tentang emotion regulation jelasin bahwa kemampuan ngolah emosi punya dampak langsung ke performa dan self-perception. Lo mungkin mikir “ya jelas lah kalau stres jadi nggak pede”, tapi di level akademik, ini udah diverifikasi berkali-kali. Teknik napas lambat, misalnya, terbukti menurunkan reaktivitas fisiologis (Lehrer & Gevirtz, 2014), yang bikin kepala lo lebih jernih saat ngadepin situasi kantor yang bikin deg-degan.
Satu hal yang sering dilupakan adalah bahwa budaya kantor juga nentuin banget. Edgar Schein (2010) bilang bahwa nilai, norma, dan pola interaksi organisasi bisa membentuk cara orang ngerasa tentang kemampuan dirinya. Lo bisa punya skill bagus, tapi kalau kantornya toxic, pede lo bisa tetap ambruk. Jadi, pede itu bukan cuma soal mental, tapi juga environment.
Konteks sosial kayak bias gender atau bias komunikasi dalam organisasi juga punya bukti empiris kuat. Alice Eagly dan Linda Carli (2007) nunjukin bahwa tekanan struktural dan bias bisa bikin seseorang ngerasa kurang percaya diri walau kompetensinya sama. Ini penting buat lo inget supaya lo nggak nyalahin diri sendiri ketika ada faktor struktural yang lebih besar dari effort individu.
Dari sisi praktis, strategi micro-mastery itu efektif banget. Lo fokus pada tugas kecil yang lo bisa selesain dengan kualitas tinggi, terus kumpulin “track record kecil” itu setiap hari. Ini bukan self-help gimmick; ini konsep riset. Lo secara literal lagi ngebangun bukti objektif bahwa lo mampu — dan otak lo pake bukti ini buat ngeboost self-efficacy.
Di saat yang sama, journaling pencapaian harian bisa ngelawan bias negatif yang bikin lo ngerasa “hari ini gue nggak ngapa-ngapain.” Model ini banyak dipake dalam Cognitive Behavioral Therapy (Beck, 2011) dan terbukti ngejaga objektivitas evaluasi diri. Tanpa catatan, pikiran negatif gampang banget mendominasi.
Untuk rapat dan presentasi, persiapan bukan cuma soal “biar nggak gugup.” Secara ilmiah, persiapan itu ngurangin public speaking anxiety yang udah dievaluasi dalam meta-analisis Bodie (2010). Jadi lo bukan cuma bikin diri lo tenang, tapi juga lagi nerjemahin teori akademik jadi alat bantu kerja sehari-hari.
Lo juga bisa tingkatin rasa pede lewat task visibility. Artinya, lo bikin pekerjaan lo keliatan, bukan pamer. Bolino et al. (2008) nunjukin bahwa impression management yang sehat bisa ningkatin pengakuan dan rasa kompeten. Caranya simpel: bikin laporan mingguan singkat, jelasin progres lo dengan data, bukan opini.
Dalam konteks hubungan interpersonal, minta feedback spesifik adalah cara efektif untuk naik level. Bukan yang abstrak kayak “udah bagus belum ya?”, tapi “apa satu hal yang bisa gue tingkatkan minggu ini?” Pendekatan ini bukan cuma berguna, tapi terbukti mempercepat growth.
Tapi tetap ada nilai-nilai yang harus lo pegang. Transparansi penting supaya komunikasi tetap sehat. Respek bikin lo pede tanpa jadi arogan. Profesionalisme ngejaga batasan. Integritas memastikan lo ngebangun kepercayaan lewat fakta, bukan pencitraan. Nilai-nilai ini sejalan sama prinsip etika organisasi dari APA (2017).
Meski begitu, lo tetap harus sadar sama keterbatasan. Lingkungan kerja yang toksik bisa nge-rem semua progress lo. Burnout — yang dijelaskan sama Maslach et al. (2001) — bisa ngurangin self-efficacy walaupun skill lo nggak berubah. Jadi kalau lo ngerasa udah usaha tapi pede lo nggak naik, lihat juga kesehatannya lingkungan kerja lo.
Bias struktural juga masih jadi masalah. Kalau lo merasa pendapat lo sering di-overlook, bisa jadi itu bukan soal kualitas, tapi bias budaya organisasi. Ini bukan alasan buat berhenti berkembang, tapi penting buat lo sadar bahwa beberapa hambatan sifatnya eksternal, bukan internal.
Pada akhirnya, rasa pede di kantor itu gabungan antara bukti objektif kemampuan lo, suasana kantor, cara lo ngatur stres, dan kebiasaan lo buat nyari feedback serta bikin pekerjaan lo keliatan. Nggak ada trik ajaib, tapi semuanya bisa dibangun — dan lo bisa mulai dari langkah kecil yang realistis dan terukur.










