Ketika Temen Setim Jadi ‘Insta-Manis’ di Depan Bos: Lo Harus Gimana?

Lo pernah nggak sih, lagi kerja bareng, tau-tau ada satu temen setim yang mendadak super manis kalo ada bos? Yang biasanya cuek, tapi begitu atasan nongol langsung berubah jadi versi ultra-polished, super helpful, dan selalu nongol paling depan?
Keliatannya kecil, tapi kalo terus-terusan, rasanya bikin gerah juga.
Gue cerita dikit ya. Fenomena kayak gini tuh sebenernya punya nama ilmiah: impression management. Ini bukan gue ngarang—para peneliti perilaku organisasi udah bahas ini sejak bertahun-tahun. Intinya, orang bakal ngatur citra diri supaya keliatan lebih kompeten atau lebih disukai, terutama di depan figur berkuasa.
Masalahnya mulai muncul ketika perilaku “ambil hati bos” ini nggak konsisten sama kontribusi nyatanya di tim. Lo pasti pernah lihat: pas kerja biasa, kontribusinya standar. Tapi pas bos muncul, dia langsung turbo mode—angkat-angkat dokumen, jawab pertanyaan duluan, dan kadang nebeng kredit atas kerjaan bareng.
Gue ngerti kenapa lo kesel. Karena efeknya bukan cuma ke emosi lo—dinamika tim juga kena getahnya.
Yang rajin jadi keliatan biasa aja.
Yang main aman malah keliatan paling berbinar.
Yang bekerja bareng-bareng jadi kayak bayangan di belakang panggung.
Tapi gini, gue nggak bilang semua perilaku impresi itu salah. Dalam banyak literatur, impression management itu wajar, bahkan sering dianggap bagian dari keterampilan sosial. Yang jadi masalah adalah ketika itu dipakai buat nutupin kurangnya kontribusi atau merusak kepercayaan tim.
Jadi langkah lo apa?
Pertama, lo jangan langsung terpancing emosinya. Lo perlu liat dulu: perilaku dia ngaruh ke kerjaan lo nggak? Ada kredit kerjaan lo yang dia bawa ke bos? Ada proses yang jadi nggak adil? Kalo jawabannya iya, itu baru tanda lo perlu bertindak.
Kedua, lo bisa mulai dengan memperkuat komunikasi sama bos—bukan buat “balas ambil hati”, tapi buat bikin proses kerja lo lebih transparan. Biar kerjaan lo keliatan bukan karena lo jual citra, tapi karena kenyataan memang lo kontribusi.
Ketiga, kalau situasi makin nggak sehat, lo bisa ajak tim ngobrol soal cara kerja, bukan soal orang. Bahas hal netral kayak: “Gimana ya biar update kerjaan kita itu lebih teratur dan kelihatan buat semua pihak?” Dengan begini, perilaku cari muka jadi nggak punya ruang terlalu besar karena semuanya transparan.
Dan yang paling penting: lo tetap fokus ke kualitas kerja lo.
Citra itu bisa dibentuk instan, tapi konsistensi itu cuma muncul dari performa nyata.
Kalau pada akhirnya bos lo orang yang bisa menilai realita, dia bakal ngeh siapa yang beneran kontribusi dan siapa yang cuma main depan kamera. Kalau enggak… ya itu masalah sistem, bukan cuma masalah orang. Dan itu topik lain yang bisa kita bahas kapan-kapan.










