“Kakek Merokok Tapi Panjang Umur? Tenang, Kita Kupas Tanpa Mitos.”

Spread the love

Pasti kamu pernah dengar kalimat klasik ini: “Kakek gue ngerokok dari muda, tapi sehat-sehat sampai 90 tahun.” Dan jujur, kalimat kayak gini sering banget dijadiin tameng buat ngerasa aman sama kebiasaan merokok. Tapi kalau kita bongkar tanpa baper dan pakai kacamata yang lebih jernih, ternyata ceritanya nggak sesederhana itu.

Pertama, ada satu jebakan psikologis yang sering bikin kita salah paham: kita cuma melihat yang berhasil selamat. Ini namanya survivor bias. Yang meninggal muda gara-gara rokok? Mereka nggak muncul di timeline keluarga. Yang survive sampai tua? Itu yang diceritakan turun-temurun. Padahal data WHO dan CDC jelas bilang rata-rata perokok meninggal sekitar 10 tahun lebih cepat daripada yang nggak merokok. Jadi kakek-kakek yang panjang umur itu sebenarnya pengecualian, bukan standar.

Lalu ada faktor genetik yang nggak bisa diremehkan. Ada orang-orang yang tubuhnya punya “mesin perbaikan” yang lebih cepat dan lebih kuat. Selnya tahan banting, detoksifikasinya kencang, dan respon inflamasi tubuhnya stabil. Ini bukan soal gaya hidup ― ini soal bawaan lahir. Jadi kalau ada yang bisa hidup lama sambil ngerokok, ya karena tubuhnya kebetulan punya proteksi alami yang kuat.

Lingkungan dulu juga bikin cerita makin beda. Udara bersih, nggak ada polusi parah, nggak ada asap kendaraan di mana-mana. Makanan pun lebih natural, langsung dari ladang atau pasar tanpa banyak proses. Hidup lebih banyak gerak, lebih banyak interaksi sosial, lebih sedikit tekanan mental. Semua faktor ini bikin tubuh lebih stabil, sehingga efek buruk rokok nggak langsung “memukul” sekeras sekarang.

Stres? Jelas beda. Orang dulu ritme hidupnya lebih damai. Nggak ada notifikasi kerja yang nyusul sampai rumah, nggak ada drama medsos, dan nggak ada tekanan produktivitas yang bikin napas sesak. Tekanan mental rendah ini bikin tubuh lebih kuat menahan kerusakan sel yang biasanya dipicu nikotin dan toksin.

Ditambah lagi pola makan zaman dulu. Real food. Minim minyak jelantah. Minim bahan kimia. Minim gula tambahan. Nutrisi mereka lebih lengkap, dan itu bantu tubuh membentuk benteng pertahanan yang lumayan kokoh.

Terus soal kebiasaan merokoknya sendiri, pola orang dulu beda jauh dari sekarang. Mereka banyak yang merokok “sekadarnya”, bukan “sebatang habis, sebatang lanjut”. Intensitas paparan racunnya jelas lebih kecil dibanding perokok modern yang bisa ngerokok puluhan batang sehari.

Dan di bagian ini, gue perlu jujur: penulis sendiri adalah perokok. Gue tau rasanya ngerokok, tau susahnya berhenti, dan tau kenapa rokok terasa jadi “teman” di momen tertentu. Tapi menyampaikan fakta itu tetap penting. Status gue sebagai perokok bukan pembenaran, bukan alasan untuk ngecilin risiko, dan bukan juga dalih untuk bikin rokok terlihat lebih aman dari kenyataannya. Pilihan gue merokok itu pribadi. Tapi fakta tetaplah fakta, dan itu nggak bisa dinegosiasikan.

Karena ujungnya jelas:
orang dulu panjang umur bukan karena rokoknya ― tapi karena faktor lain yang saling bantu menahan efek buruk rokok.
Artinya, bukan rokok yang bikin panjang umur. Mereka panjang umur meskipun merokok, bukan karena merokok.

Jadi kalau kamu dengar lagi kalimat, “orang dulu ngerokok kok sehat”, boleh banget jawab santai:

“Iya, tapi yang kelihatan cuma yang selamat. Yang tumbang duluan nggak ikut masuk cerita.”

Hidup memang sering begitu. Yang terdengar cuma kisah manisnya. Tapi kalau kita bongkar pelan-pelan, realitasnya jauh lebih kompleks dari sebatang rokok yang terlihat sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *