KENAPA BAWAANNYA PINGIN KEPOIN ORANG LAIN ?

Ada momen-momen di mana kita lagi rebahan santai, niatnya cuma mau istirahat sebentar, tapi tau-tau jari udah gerak sendiri buka profil seseorang. Kadang itu mantan, kadang teman lama, kadang orang random yang cuma lewat di FYP. Dan yang bikin lucu, kita sering nggak sadar kapan kepo itu mulai… yang kita tahu cuma: “Gue pengen tau.”
Kepo sebenarnya bukan sekadar rasa penasaran receh. Dalam otak manusia, ada sistem biologis yang memang dirancang untuk peduli sama orang lain. Penelitian neuropsikologi menunjukkan bagian otak yang aktif saat kita mikir tentang diri sendiri, juga aktif saat kita mikir tentang orang lain. Jadi, kepo itu bukan kebiasaan generasi sekarang—itu sifat manusia sejak dulu.
Sebenernya kepo itu mode bertahan hidup versi modern. Di masa lalu, manusia perlu tau siapa kawan, siapa lawan, siapa yang bisa dipercaya. Informasi itu dulu bisa bikin selamat dari bahaya. Sekarang bahaya fisiknya mungkin nggak sebesar dulu, tapi otak manusia masih pakai pola yang sama: ngumpulin info supaya merasa aman secara sosial.
Ada juga faktor dopamin yang bikin kepo terasa nagih. Setiap kali kita menemukan sesuatu yang baru—entah story seseorang, update hidup, atau sekadar foto baru—otak ngasih hadiah kecil berupa rasa senang. Sensasi kecil itu bikin kita ingin mengulangi. Makanya scrolling terasa kayak “sekali lagi deh”… lalu tahu-tahu udah 20 menit lewat.
Media sosial membuat kepo jauh lebih gampang dan jauh lebih menggoda. Kalau dulu kepo butuh usaha, sekarang info datang ke kita tanpa diminta. Algoritma selalu mendorong kita buat melihat lebih banyak, membaca lebih banyak, dan memperhatikan lebih banyak. Pada akhirnya, bukan cuma kita yang mencari, tapi dunia digital yang mendorong kita buat terus ngintip.
Kepo juga sering muncul karena manusia punya dorongan alami buat membandingkan diri. Tanpa sadar kita ngecek orang lain buat ngeliat posisi kita sendiri. Kadang kita pengen tau apakah hidup kita “baik-baik saja dibanding mereka”. Kadang kita cuma pengen tahu kenapa orang lain terlihat mulus sementara kita merasa terseok.
Di balik rasa penasaran itu, ada juga keinginan sederhana: ingin merasa terhubung. Kita kepoin seseorang karena mau ngerasa dekat, walaupun cuma lewat layar. Bahkan gosip—yang sering dianggap buruk—sebenarnya salah satu cara manusia membangun kedekatan sosial. Itu mekanisme kuno yang bertahan sampai sekarang.
Tapi ada kalanya kepo muncul bukan karena dorongan mendalam, tapi karena kita lagi gabut. Saat otak butuh hiburan cepat, ia memilih target terdekat: hidup orang lain. Apalagi kalau hidup kita lagi berantakan atau monoton, stalking sejenak terasa kayak pelarian yang mudah.
Beberapa orang kepo karena rasa penasaran terhadap perubahan. Kalau seseorang tiba-tiba hilang dari radar, postingannya beda, atau vibes-nya berubah, otak kita otomatis membaca itu sebagai “anomali”. Otak suka pola, dan ketika ada perubahan, dia pengen tahu kenapa.
Ada juga momen-momen di mana kepo muncul karena ada ikatan emosional yang belum selesai. Misalnya hubungan yang masih menyisakan tanda tanya, pertemanan yang merenggang, atau seseorang yang pernah punya tempat khusus di hati. Luka emosional sering bikin kita balik kepo tanpa sadar.
Namun walaupun kepo itu normal, bukan berarti selalu sehat. Kadang kepo bikin kita terjebak dalam overthinking, insecure, bahkan kehilangan fokus pada hidup sendiri. Semakin kita tenggelam dalam cerita orang lain, semakin kabur hubungan kita dengan cerita kita sendiri.
Yang perlu diinget, kepo itu refleksi kebutuhan manusia buat memahami dunia. Ia muncul karena otak kita ingin merasa aman, terkoneksi, dan paham posisi kita. Tapi kalau kita bisa sadar kapan kepo berubah jadi beban, kita bisa mulai mengarahkan energi itu ke hal yang lebih berguna.
Kepo bisa jadi jendela kecil untuk memahami apa yang kita cari dalam diri sendiri. Kalau kita kepoin seseorang yang sukses, mungkin kita sedang rindu kemajuan. Kalau kita kepoin seseorang yang bahagia, mungkin kita sedang rindu ketenangan. Kalau kita kepoin seseorang yang pernah dekat, mungkin kita sedang rindu closure.
Pada akhirnya, kepo bukan dosa. Ia cuma cermin kecil dari kebutuhan manusia untuk terhubung dan memahami. Yang penting, jangan sampai kepo terhadap hidup orang lain bikin kita lupa membangun hidup kita sendiri.
Karena yang paling layak kita kepoin sebenarnya bukan orang lain—tapi diri kita, mimpi kita, dan jalan yang sedang kita susun pelan-pelan. 💛✨










