Ritual Tetap Jalan, Tapi Identitas Dilepas: Agama Tanpa “Bendera Perang”
Gue makin sering ketemu orang yang masih rajin ritual keagamaan—ibadah jalan, doa jalan, tradisi keluarga jalan—tapi di saat yang sama dia pelan-pelan melepas kemelekatan pada label “golongan gue paling bener.” Bukan karena dia jadi abu-abu atau kehilangan iman, justru karena dia capek: capek kalau agama berubah jadi seragam, dan capek kalau Tuhan dipakai jadi alasan buat merasa lebih tinggi dari orang lain. Kalau ini kedengerannya “nyeleneh,” santai—di banyak riset, religiusitas memang nggak selalu identik dengan keterikatan pada institusi atau identitas kelompok yang kaku; orang bisa spiritual sekaligus menjaga jarak dari fanatisme identitas (Zinnbauer dkk., 1997; Alper dkk., 2023).
Masalahnya sering bukan pada ritualnya, tapi pada “bendera” yang menempel di ritual itu. Begitu identitas kelompok jadi pusat, otak manusia otomatis main mode kami vs mereka. Ini mekanisme sosial yang lumayan klasik: manusia mencari harga diri lewat keanggotaan kelompok, lalu mulai membandingkan dan membela “ingroup” sambil merendahkan “outgroup” (Tajfel & Turner, 1979). Agama yang seharusnya jadi jalan penghalus batin malah jadi bahan bakar kompetisi moral: siapa paling suci, siapa paling sah, siapa paling layak surga. Dan di titik itu, bukan cuma orang lain yang luka—kita sendiri juga jadi tegang, gampang tersinggung, gampang merasa terancam, padahal yang terancam seringnya cuma ego.
Di sinilah konsep “melepas kemelekatan” jadi menarik. Dalam psikologi berbasis tradisi kontemplatif, nonattachment itu bukan berarti cuek atau nggak peduli—tapi cara berelasi yang fleksibel: nggak mencengkeram pengalaman, nggak panik saat berbeda, dan nggak menjadikan identitas sebagai borgol (Sahdra dkk., 2010). Jadi lo masih bisa ibadah, masih bisa mencintai tradisi, masih bisa disiplin spiritual—tanpa harus memelihara kebutuhan untuk menang debat atau menang label. Secara sederhana: ritual tetap jalan, tapi kepala nggak jadi arena perang.
Kalau lo tanya, “Emang boleh?”—gue balik tanya, “Emang Tuhan butuh kita jadi satpam identitas?” Ada bedanya antara iman yang tumbuh dari dalam dengan agama yang dijadikan alat sosial. Klasik banget: orientasi religius intrinsik (agama sebagai nilai hidup) beda dari orientasi ekstrinsik (agama sebagai alat status/keamanan sosial) (Allport & Ross, 1967). Bahkan ada yang lebih dewasa: orientasi “quest,” yaitu spiritualitas yang berani bertanya, berani mengakui kompleksitas, dan nggak alergi pada ketidakpastian (Batson, 1976; Batson dkk., 1993). Ini tipe orang yang ritualnya serius, tapi egonya nggak minta dilayani.
Dan kalau kita tarik lebih jauh, kemelekatan pada identitas tunggal itu sering jadi sumber konflik: ketika manusia merasa dirinya cuma “satu label” dan label itu harus menang, di situlah kekerasan sosial punya panggung (Sen, 2006). Maka melepas kemelekatan pada identitas kelompok bukan berarti melepas iman—tapi melepas ilusi bahwa keselamatan harus dibangun dari kebencian pada yang berbeda. Ritual tetap bisa jadi “rantai ingatan” yang menghubungkan kita pada nilai, keluarga, dan sejarah—tanpa harus menjadikan rantai itu sebagai borgol untuk menghakimi orang lain (Hervieu-Léger, 2000).
Jadi versi inspiratifnya begini:
Elo boleh tetap ritual, bahkan silakan konsisten. Tapi coba geser pusatnya. Bukan lagi “identitas gue,” melainkan “nilai gue.” Bukan lagi “kelompok gue,” melainkan “akhlak gue.” Karena di titik paling sunyi, hidup nggak nanya lo dari kubu mana—hidup nanya: lo jadi manusia yang bikin sekitar lebih damai, atau lebih ribut.










