Periksa HPV Gratis di RSUD Jatisari: Yang Mahal Itu Bukan Tesnya, Tapi Kalau Kita Telat Tahu

Spread the love

iva test

Gue mau ngomong simpel: kalau ada kesempatan periksa HPV gratis di RSUD Jatisari, ini bukan sekadar “program kesehatan”—ini momen langka ketika pencegahan dikasih jalan yang lebih gampang. Dan kita tahu, yang sering bikin orang kalah bukan penyakitnya duluan, tapi kebiasaan menunda sambil bilang “nanti aja kalau sempat.”

HPV itu virus yang sangat umum, sering tanpa gejala, dan beberapa tipe HPV berisiko tinggi terkait kuat dengan kanker leher rahim (kanker serviks) (WHO, 2023; IARC, 2007). Jadi ironi hidupnya begini: orang bisa merasa baik-baik saja, padahal tubuh sedang “diam-diam kerja lembur” menyimpan masalah. Di sinilah screening jadi masuk akal—bukan karena kita parno, tapi karena kita waras.

Yang bikin pemeriksaan HPV jadi penting adalah konsepnya: deteksi dini sebelum jadi drama besar. Banyak kebijakan kesehatan dunia menekankan bahwa pencegahan dan deteksi dini kanker serviks itu efektif menurunkan risiko kesakitan dan kematian (Arbyn, 2020; WHO, 2023). Jadi, ini bukan gaya-gayaan medical check-up. Ini soal ngasih kesempatan ke tubuh buat diselamatkan lebih awal.

Buat yang masih mikir, “Tapi gue nggak ada keluhan,” justru itu poinnya. Infeksi HPV bisa berjalan tanpa keluhan dan baru ketahuan saat sudah ada perubahan sel yang serius (Schiffman, 2005). Dan kalau ada yang merasa “duh, periksa ginian kok malu,” gue paham—tapi gue juga pengin bilang pelan-pelan: malu itu sebentar, menyesal itu bisa lama.

Program gratis seperti ini juga punya sisi kemanusiaan yang jarang disadari: dia menurunkan hambatan orang untuk akses layanan. Kadang orang bukan nggak peduli kesehatan, tapi keburu kalah sama biaya, waktu, atau rasa takut (WHO, 2023). Makanya ketika rumah sakit daerah membuka layanan gratis, itu patut disambut. Bukan cuma demi diri sendiri, tapi juga sebagai budaya baru: kita mulai menganggap pencegahan sebagai kebutuhan, bukan kemewahan.

Soal “apa yang akan dilakukan,” umumnya pemeriksaan HPV dan/atau skrining leher rahim dilakukan dengan prosedur yang terstandar dan petugas kesehatan yang terlatih; sensasinya mungkin tidak menyenangkan, tapi biasanya singkat dan aman. Setelah hasil keluar, langkah berikutnya bergantung pada hasil tersebut—bisa cukup edukasi, kontrol terjadwal, atau pemeriksaan lanjutan bila diperlukan (Arbyn, 2020; WHO, 2023). Yang penting: jangan menghilang setelah tes. Tes itu pintu, bukan garis finish.

Jadi, kalau lo (atau istri, saudara perempuan, teman, tetangga yang lo peduliin) dapat kesempatan periksa HPV gratis di RSUD Jatisari, anggap ini sebagai bentuk sayang ke diri sendiri. Tidak heboh, tidak dramatis, tapi dewasa. Karena kadang bentuk cinta paling nyata itu bukan “aku selalu ada,” melainkan “gue cek dulu sebelum terlambat.”

Deteksi itu kelihatan mahal cuma karena lo masih sehat—begitu telat tahu, barulah lo paham yang paling mahal itu bukan tesnya, tapi harga ‘keburuannya’.

Daftar pustaka: WHO (2023); IARC (2007); Schiffman (2005); Arbyn (2020).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *