YouTube Ngebuka 1999, Tapi Tiba-Tiba Gue Kebangun di 2025: Hidup Nggak Nungguin Siapa Pun
Gue random buka YouTube, klik satu video, lalu mendadak otak gue kayak ditarik mundur ke era 1999–2000. Era di mana hidup rasanya masih punya tempo pelan, masalah datangnya satu-satu, dan kita masih bisa sok yakin “nanti juga beres” tanpa perlu mikir cicilan, deadline, dan usia yang diam-diam jalan terus. Terus gue kedip… dan sadar: ini udah 2025. Kayak habis lompat bab dalam novel, tapi lupa baca halaman tengahnya.
Dan di situ gue flashback. Semua peristiwa yang datang dan pergi di hidup gue lewat seperti kereta malam: ada yang berhenti sebentar, ada yang cuma melintas. Jatuh-bangun. Tangis-tawa. Suka-duka. Lelah-bahagia. Dua sisi yang kalau dipisah malah jadi palsu, karena kehidupan memang paket komplit—bonusnya kadang nggak manusiawi, tapi ya itulah “hidup”: satu tangan ngasih, tangan lain nyubit.
Gue bersyukur, bukan karena hidup selalu baik, tapi karena hidup memaksa gue jadi lebih dewasa di titik ini. Dewasa bukan berarti kebal; dewasa itu lebih ke kemampuan buat bilang, “Oke, gue sakit, tapi gue tetap jalan,” tanpa drama ekstra yang bikin energi habis sebelum waktunya. Dalam psikologi, ini dekat dengan proses adaptasi dan ketahanan mental—bukan bawaan lahir, tapi kebiasaan yang dibangun dari pengalaman (Masten, 2001).
Terus gue makin sadar: masa depan itu random. Serandom itu. Kita boleh bikin rencana, boleh hitung-hitungan, boleh bikin target, tapi hidup punya hobi ngeselin: ngasih plot twist tanpa minta izin. Kita bisa memperkirakan, tapi tidak bisa benar-benar membaca masa depan. Bahkan otak kita sendiri sering kejebak ilusi kontrol—merasa bisa memegang kendali penuh padahal dunia punya variabel liar yang nggak masuk spreadsheet (Kahneman, 2011). Dan gue belum sampai tahap jadi peramal. Jadi ya udah, gue berhenti sok tahu.
Lagu yang gue tonton itu—dengan vibe “tetap bersinar” dan semacam janji buat tetap jadi terang di langit—ngingetin gue bahwa harapan itu bukan barang naif. Harapan itu strategi bertahan. Harapan itu cara manusia tetap waras walau dunia suka tidak konsisten. Gue pengin tetap jadi “bintang” versi gue sendiri: bukan yang harus dipuja, tapi yang tetap nyala meski angin kenceng. Dan gue akan tetap mengejar cita-cita kebahagiaan itu—bukan kebahagiaan yang heboh, tapi kebahagiaan yang cukup: tenang, sehat, dan nggak pura-pura kuat tiap hari.
Gue akan melangkah terus. Tapi kali ini dengan filosofi baru yang lebih ramah: gue nggak akan bawa beban yang nggak perlu. Masa lalu yang udah selesai? Ya udah, taruh. Masa kini yang terlalu berisik? Pilih mana yang perlu dipegang, mana yang harus dilepas. Karena makin lama gue hidup, makin gue paham: banyak orang capek bukan karena jalannya panjang, tapi karena dia nyeret koper yang sebetulnya nggak wajib dibawa.
Gue juga nggak mau mempersulit diri sendiri dengan memaksa memikul beban itu sendirian, seolah-olah penderitaan adalah tiket sah buat disebut “berjuang.” Nggak. Berjuang itu bukan lomba paling menderita. Berjuang itu seni mengatur napas, milih prioritas, dan tahu kapan harus berhenti sebentar biar langkah berikutnya nggak jadi ambruk.
Gue bakal usaha sampai batas gue. Bukan batas yang dibuat orang lain, bukan batas yang dipaksain demi validasi, tapi batas yang jujur: sejauh mana tubuh dan jiwa gue sanggup tetap waras. Dan kalau di tengah jalan langkah gue berat atau ketahan, gue nggak akan sok kuat. Gue akan taruh beban itu. Gue tinggalin. Bukan karena menyerah, tapi karena gue pengin tetap maju. Kadang meninggalkan beban adalah bentuk keberanian paling dewasa: berani memilih hidup daripada ego.
Jadi kalau hari ini lo juga tiba-tiba “ketrigger” nostalgia dari satu video random, lalu sadar waktu sudah jauh berjalan—tenang. Itu bukan tanda lo lemah. Itu tanda lo masih punya hati. Dan hati yang masih bisa merasa, masih bisa bersyukur, masih bisa memutuskan untuk melangkah… itu modal yang lebih berharga dari semua teori masa depan.
Karena pada akhirnya, hidup nggak butuh kita jadi peramal. Hidup cuma butuh kita jadi pejalan yang nggak berhenti—bukan karena nggak capek, tapi karena tahu kapan harus melepas yang memberatkan. Dan gue? Gue pilih tetap jalan. Tetap nyala. Dengan langkah yang lebih ringan. Dengan kepala yang lebih damai. Dengan doa yang nggak putus-putus.
“Gue pilih tetap nyala dan jalan terus: masa depan boleh random, tapi gue nggak akan jadi martir—gue usaha sampai batas gue, dan sisanya gue tinggalin biar langkah gue tetap ringan menuju bahagia.”










