“Bahagia Hari Ini Jangan Bikin Lo Amnesia Emosional Besok”
Ada kebiasaan manusia modern yang lucu sekaligus ironis:
begitu ada seseorang yang bikin kita bahagia hari ini, otak kita langsung nge-zoom in ke momen itu, dan semua orang yang kemarin ikut nampung drama kita… mendadak kabur dari frame.
Ini penyakit kecil yang lazim disebut amnesia emosional selektif, kondisi di mana kebahagiaan baru langsung ng-overwrite memori kita tentang siapa yang setia di saat kita amburadul (Holmes, 2016).
Bahasa santai gue:
“Begitu ada yang bikin lo senyum, lo lupa siapa yang bantu lo waktu nangis.”
Padahal hidup itu bukan timeline Instagram yang cuma nampilin highlight.
Kita ini makhluk historis — bahagia hari ini itu biasanya berdiri di atas pundak orang yang sabar sama kita kemarin, minggu lalu, tahun lalu.
Mereka yang nemenin lo saat lo nggak lucu, nggak rapi, nggak stabil, dan nggak instagrammable.
Dan iya, wajar kalau ada orang baru yang bikin lo berasa hidup kembali.
Itu indah, gue nggak nyinyir soal itu.
Yang gue sindir adalah ketika momen itu bikin lo lupa siapa yang dulu rela ngurus serpihan lo waktu lo pecah.
Bahagia boleh,
tapi jangan jadi jahat tanpa sengaja.
Karena ukuran kedewasaan itu bukan seberapa cepat lo move on ke hal yang bikin lo senyum,
tapi seberapa baik lo menjaga hubungan dengan orang-orang yang peduli tanpa butuh panggung.
Sarkas halusnya begini:
lo boleh punya orang yang bikin hari ini terang, tapi jangan matikan lampu orang-orang yang menerangi hari kemarin.
Dan soal “tetaplah berbuat baik”?
Itu bukan pesan moral generik—itu strategi kesehatan jiwa.
Perilaku baik itu bukan bentuk kepolosan, tapi bentuk regulasi diri: lo memilih tidak mengulang keburukan yang pernah melukai lo (Baumeister, 2010).
Karena hidup ini lucu…
kadang orang yang bikin kita bahagia hari ini hanya lewat sebentar,
sementara orang yang peduli kemarin itu justru yang bertahan lebih lama.
Jadi jangan tutup pintu untuk siapa pun.
Lo nggak tahu siapa yang akan nolong lo lagi nanti.
Dan lo nggak tahu siapa yang diam-diam tetap sayang meski nggak ikut merayakan momen bahagia lo hari ini.
Pada akhirnya…
Bahagia itu boleh,
bersyukur itu wajib,
menghargai yang pernah ada itu elegan,
dan berbuat baik ke semua orang itu tanda lo manusia — bukan cuma makhluk yang lagi mood bagus.










