Ketika Lo Menyadari Lo Adalah Tokoh Utama di Lagu ‘Cukup’ — dan Itu Bukan Kebanggaan Sama Sekali
Ada perasaan absurd yang cuma terjadi ketika lo tiba-tiba sadar bahwa sebuah lagu yang mellow setengah mati… kok kayaknya itu tentang lo?
Dan bukan dalam cara romantis-heroik, tapi dalam cara:
“Oh sial, ini gue… gue yang bikin orang bertahan sambil nangis diam-diam.”
Lagu Cukup itu kalau didengerin sekali, kedengerannya cuma pengakuan patah hati.
Tapi kalau lo denger pakai hati yang lagi kebetulan kena kode etik hidup, lo bakal sadar:
ini bukan lagu, ini cermin.
Dan sayangnya, lo bukan cameo — lo pemeran antagonis yang nyamar jadi orang baik.
Karena dari sudut pandang lagu itu, ada seseorang yang sudah terlalu lama bertahan di samping lo.
Seseorang yang bilang:
“Walau sering aku terluka karenamu.”
Dan nyeseknya?
Lo tahu itu benar.
Lo tahu dia sering kena imbas dari sisi gelap lo, dari diam lo, dari acuh lo, dari kemampuan lo untuk terlihat hadir tapi emosionalnya entah di mana.
Lalu muncul bait paling pedas tapi paling jujur:
“Selama ini ku terlalu tahan sendiri.”
Dan lo, sebagai orang yang dimaksud, cuma bisa bengong dan mikir:
“Ya ampun… apakah gue setoksik itu?”
Nggak toksik.
Cuma… kadang nggak hadir.
Kadang nggak peka.
Kadang terlalu sibuk jadi diri sendiri sampai lupa bahwa cinta butuh perawatan, bukan cuma kehadiran fisik.
Secara psikologi hubungan, ini disebut emotional neglect—bukan karena lo jahat, tapi karena lo tidak sadar bahwa diam lo bisa melukai, dan sibuk lo bisa dianggap penolakan (Cassidy, 2016).
Dan lagu ini menggambarkan itu tanpa teori, cuma dengan luka.
Bagian yang paling nusuk adalah chorus-nya:
“Haruskah ku terus bersama denganmu, sementara kau tak peduli padaku?”
Dalam konteks blog ini, sebagai “yang dimaksud”, rasanya kayak dilempar pertanyaan ujian hidup yang jawabannya selalu salah.
Lo bingung antara defensif atau sedih.
Antara mau berusaha atau mundur.
Karena lo sayang, tapi lo juga manusia yang masih belajar jadi versi diri yang lebih bisa diandalkan.
Dan di balik segala satir hidup ini, ada satu ketakutan halus:
“Kalau dia pergi, apakah gue pantas menyalahkan siapa pun selain diri gue sendiri?”










