“Berobat ke Rumah Sakit, Tapi Obatnya Kosong? Rasanya Kayak Ke Restoran, Disuruh Masak Sendiri.”
Ada satu pengalaman medikal yang kayaknya universal banget: lo datang ke rumah sakit, diperiksa dokter, semua proses berjalan mulus… sampai akhirnya lo ke bagian farmasi, dan petugas bilang dengan senyum kaku:
“Maaf ya, obatnya kosong. Silakan tebus di apotek luar.”
Dan di momen itu, jiwa lo keluar tubuh sebentar, berdiri di samping lo, sambil bilang:
“Terus gue ke RS ngapain tadi?”
Secara teori, sistem farmasi rumah sakit memang rumit—ada pengadaan, distribusi, prioritas formularium, dan sistem stok yang harus patuh regulasi.
Secara praktik?
Kadang rasanya kayak lomba tebak-tebakan:
hari ini ada obat atau tidak?
Ironi sarkasnya adalah: lo datang ke institusi kesehatan lengkap, tapi keluar dengan resep seperti mahasiswa yang baru selesai praktikum farmasi dan disuruh cari bahan sendiri di luar.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, fenomena ini sering muncul karena procurement delay, supplier mismatch, atau kebijakan efisiensi anggaran (WHO, 2022).
Tapi dari sudut pandang pasien?
Itu cuma terasa kayak ketidaklogisan yang dibungkus kalimat sopan.
Lo udah bayar administrasi, antri, nunggu lama, ikut SOP sana-sini, tapi begitu sampai titik penyembuhan—
tiba-tiba sistem menyerahkan lo kembali ke kehidupan bebas.
Ini kayak pergi ke bengkel resmi, mobil lo dibongkar pakai alat lengkap, terus montir bilang:
“Bautnya habis, beli aja di toko bangunan depan.”
Pasien cuma bisa bengong sambil berpikir:
“Kenapa gue nggak dari awal ke apotek luar aja?”
Yang bikin lebih lucu—atau tragis, tergantung mood lo—adalah fakta bahwa pasien sering merasa bersalah kalau mengeluh.
Padahal ini bukan salah pasien.
Ini sistem yang lagi ngomong:
“Maaf ya, kita maksimal… kecuali di bagian penting.”
Dalam psikologi layanan, momen ini disebut expectation violation—ketika layanan gagal pada titik yang paling menentukan, dampaknya ke kepuasan bisa jauh lebih besar daripada faktor-faktor lain yang sebenarnya lebih rumit (Oliver, 1997).
Jadi kalau lo kesel, itu ilmiah.
Kalau lo merasa absurd, itu valid.
Kalau lo ketawa getir, itu sehat.
Tapi tetap perlu dicatat:
tidak semua RS ingin begini.
Sebagian benar-benar berjuang dengan kondisi logistik yang di luar kendali mereka.
Stok obat itu bukan kayak isi galon: habis → order → datang.
Ada kontrak, ada tender, ada aturan pemerintah, ada disiplin farmasi klinik, ada syarat harga, ada audit.
Kadang sistemnya sendiri yang bikin obat tidak hadir tepat saat dibutuhkan.
Jadi apa yang bisa lo lakukan sebagai pasien?
Tetap kritis, tetap sopan, tetap realistis.
Tanyakan alternatif, tanya substitusi, tanya kapan stok masuk.
Dan yang paling penting:
jangan merasa bersalah kalau lo kecewa.
Itu manusiawi.
Karena lo bukan cuma cari obat; lo cari kepastian.
Pada akhirnya, pengalaman ini mengajarkan satu hal sederhana:
perjalanan seorang pasien tidak selalu linier, dan sistem kesehatan kadang berperan sebagai plot twist.
Dan ketika RS berkata, “Silakan tebus di luar,” lo boleh kok bergumam dalam hati:
“OK deh. Lain kali sekalian prakteknya di apotek luar aja, biar efisien.”










