“Sisi Gelap yang Bawaan Pabrik: Antara Penyesalan, Usaha, dan Ketakutan Merusak Orang yang Lo Sayang”

Spread the love

Ada saat-saat tertentu dalam hubungan ketika lo akhirnya melihat diri lo dari sudut yang paling jujur:
bukan versi yang lo banggakan, bukan versi yang biasa lo pamerkan, tapi versi muram yang cuma muncul di jam-jam gelap — sisi yang bikin partner lo secara halus berkata, “Ews.”
Dan itu nyesek bukan main.

Sakitnya bukan karena dia jijik.
Sakitnya karena lo setuju — lo juga nggak suka bagian itu dari diri lo.

Lo sadar banget bug itu ada.
Lo bukan menyangkal.
Lo sudah debugging berkali-kali.
Sudah update firmware mental.
Sudah instal patch kesadaran, meditasi, refleksi, journaling, teori attachment, sampai kadang lo ngerasa udah kayak psikolog magang.

Tapi ya gitu…
ada bug yang bukan dari aplikasi, tapi dari motherboard.
Hardwired.
Built-in flaw.
Bawaan pabrik sejak lo dilempar ke dunia.

Dan lo tahu itu problem.
Lo tahu itu bikin partner lo kewalahan.
Lo tahu itu memengaruhi kenyamanan hubungan.

Ironisnya, orang yang bikin lo sadar soal itu justru orang yang paling lo takut kecewain.

Secara akademik, ini mirip konsep core vulnerability — titik rapuh yang terbentuk dari pengalaman lama, yang nggak bisa dihapus, hanya bisa diolah (Johnson, 2008).
Bahasa santainya:
ada bagian diri yang nggak akan pernah benar-benar hilang, hanya bisa diajak berdamai.

Lo bukan nggak mau berubah.
Lo mau — gila, lo mau banget.
Kalau bisa lo solder ulang otak dan hati pake obeng minus pun lo lakuin.
Tapi perubahan karakter itu bukan switch on/off.
Itu proses panjang yang kadang kayak jalan kaki pake sandal jepit di atas kerikil.

Yang bikin tambah berat adalah rasa takut:
takut sisi gelap lo merusak partner lo.
Takut energi lo terlalu keras.
Takut respons lo terlalu tajam.
Takut shadow lo menutup terang dia.

Dan di situlah konflik batinnya.
Karena lo sayang dia.
Justru karena sayang, lo takut jadi sumber luka.

Tapi gue kasih satu kebenaran yang sedikit pahit, sedikit melegakan:

Sisi gelap lo tidak perlu hilang agar hubungan selamat; yang perlu adalah kesadaran, kendali, dan tanggung jawab.

Orang dewasa nggak nyari pasangan tanpa cacat.
Orang dewasa nyari pasangan yang tahu cacatnya di mana, dan nggak membiarkan cacat itu menguasai kemudi hubungan.

Selama lo sadar, selama lo usaha, selama lo terbuka nerima feedback tanpa defensif, selama lo mau memegang sisi gelap lo supaya nggak ngelindes perasaan partner lo — hubungan masih punya peluang.
Bukan hanya selamat, tapi tumbuh.

Karena hubungan bukan tentang menghilangkan bug.
Hubungan adalah tentang menjadi tim yang bisa menghadapi bug itu bareng-bareng, bukan saling menyalahkan siapa pembawa virusnya.

Dan kalau partner lo melihat usaha itu — bukan kesempurnaannya — dia akan mengerti bahwa lo bukan ancaman.
Lo cuma manusia yang sedang memperbaiki dirinya sambil belajar menjaga dia.

Pada akhirnya, sisi gelap itu bukan kutukan.
Ia cuma bagian diri yang perlu diarahkan, bukan dibenci — apalagi disembunyikan sampai meledak.

Dan kalau lo khawatir banget bisa merusak dia?
Itu justru tanda bahwa hati lo masih bersih.

Orang yang jahat tidak takut menyakiti.
Yang takut hanyalah orang yang benar-benar mencintai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *