“Jangan Di-Judge! Kenapa Stres Bisa Reda pada Perokok?”
Gue selalu geli tiap ada orang komentar, “Ih, kok kalau stres malah merokok sih? Nggak sehat tahu!”
Iya, semua orang juga tahu. Bahkan perokoknya lebih tahu daripada orang yang ceramah.
Tapi fenomenanya tetap ada: stres reda ketika orang merokok.
Sebelum buru-buru nge-judge, mari pakai kacamata ilmiah yang agak satir:
kadang manusia melakukan hal yang “tidak ideal” karena itu hal yang bekerja di situasi tertentu—meski konsekuensinya jangka panjang.
Dalam psikologi regulasi stres, ada dua mekanisme utama kenapa rokok terasa seperti balm instan.
Pertama, ada ritual tarik dan buang napas panjang.
Ini bukan sekadar gaya, ini teknik respirasi yang secara fisiologis menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik—alias sistem “fight or flight” yang lagi kebakaran pas stres (Porges, 2011).
Tarikan panjang → retensi sesaat → hembusan perlahan:
itu sama persis dengan latihan paced breathing yang dipakai psikoterapi modern untuk menurunkan kecemasan.
Ironisnya, perokok mempraktikkan teknik relaksasi mahal tanpa perlu ikut kelas mindfulness.
Kedua, ada efek nikotin.
Secara biokimia, nikotin itu tricky.
Dia meningkatkan dopamine—neurotransmiter yang bikin otak bilang, “Santai, semuanya terkendali,” (Benowitz, 2009).
Makanya stres terasa turun.
Tapi ini bukan solusi permanen; ini semacam suntikan singkat ke sistem reward.
Jadi bukan jiwa perokok itu lemah, tetapi otaknya merespons reward cepat yang menciptakan sensasi reda sementara.
Sarkas tipisnya begini:
rokok itu kayak teman toxic—nggak baik buat masa depan, tapi jago bikin lo tenang lima menit.
Ini menjelaskan kenapa banyak perokok merasa, “kalau nggak ngerokok, gue makin tegang.”
Bukan karena rokok “menenangkan”, tapi karena tubuh sudah terbiasa dengan pola regulasi stres yang rokok menipu seolah-olah diberikan.
Secara akademik, ini mirip konsep negative reinforcement—stres hilang sebentar, sehingga perilaku makin kuat (Skinner, 1953).
Secara manusiawi?
Kadang lo cuma butuh jeda dari hidup, dan rokok menawarkan jeda yang singkat tapi langsung terasa.
Tentu saja, ini bukan pembenaran.
Bukan kampanye.
Bukan anjuran.
Tapi penjelasan kenapa “merokok saat stres” bukan fenomena aneh, bukan bukti lemah, dan bukan dosa psikologis.
Manusia bisa melakukan hal-hal yang tidak ideal demi merasa berfungsi—bahkan hanya beberapa menit.
Dan sebelum menghakimi, inget satu hal:
semua orang punya cara bertahan hidup.
Ada yang meditasi, ada yang journaling, ada yang curhat, ada yang makan manis… dan ada yang merokok.
Dunia tidak sesederhana “sehat vs tidak sehat.”
Kadang, itu tentang bertahan vs kolaps.










