“Karawang Punya Bupati yang Nggak Cuma Duduk di Kursi — Tapi Berdiri untuk Kemanusiaan”
Ada momen langka dalam sejarah sebuah daerah ketika masyarakat bisa bilang, tanpa ragu dan tanpa pencitraan murahan:
“Gila, Karawang punya pemimpin yang begini.”
Karena di tengah dunia birokrasi yang sering kedengerannya seperti lomba siapa paling sibuk rapat, mendadak muncul satu keputusan yang bukan hanya administratif, tapi emosional: Bupati Karawang, H. Aep Saepulloh, ngasih tanah milik pribadi buat lansia terlantar.
Bukan tanah APBD.
Bukan tanah hibah kantor.
Beneran tanah pribadi — yang dipindahkan haknya bukan demi simbol, tapi demi manusia.
Dan di sini, Karawang berhak bangga.
Bukan bangga karena “wah kita viral,”
tapi bangga karena kita punya pemimpin yang ingat bahwa kekuasaan itu soft ketika tidak menyentuh manusia, dan keras ketika menembus keadilan sosial.
Secara akademik, tindakan seperti ini sering masuk kategori public moral leadership—kepemimpinan moral yang efeknya bukan cuma administratif, tapi membangkitkan empati kolektif (Burns, 1978).
Tapi bahasa Karawang-nya yang lebih mudah dicerna begini:
“Pemimpin itu ketok palu boleh, tapi kalau hati ikut bergerak, dampaknya beda.”
Dan dampaknya udah mulai terasa.
Lansia-lansia yang tadinya hidup kayak puzzle tercerai-berai, sekarang punya kemungkinan dapat rumah, rasa aman, dan penghargaan di akhir usia mereka.
Masyarakat yang nonton dari jauh pun ikut ngerasain kehangatannya:
“Ternyata masih ada pejabat yang kalau ngomong kemanusiaan, bukan cuma lipsync politik.”
Apa kita boleh sedikit satir?
Boleh dong.
Karena di negeri yang sering bikin kita skeptis sama pejabat publik, langkah kayak gini itu ibarat nemu oasis di tengah padang pasir:
kecil ukurannya, tapi besar pesan moralnya.
Karawang bangga bukan karena bupatinya sempurna — nggak ada pemimpin yang begitu.
Karawang bangga karena bupatinya berani melakukan sesuatu yang tidak wajib, tetapi dibutuhkan.
Karawang bangga karena ia menunjukkan kepemimpinan yang lebih sulit daripada membangun gedung:
membangun rasa percaya.
Dan percaya itu mahal.
Sekali rusak, susah balik.
Tapi kalau dipupuk dengan aksi, bukan slogan, masyarakat bisa kembali melihat pemerintah bukan sebagai jarak, tapi sebagai rumah bersama.
Makanya hari ini kita boleh bilang:
“Proud to be Karawang.”
Karena bukan tiap hari kita melihat pemimpin yang membuat empati naik pangkat menjadi kebijakan nyata.
Dan untuk para lansia yang kelak tinggal di rumah itu — rumah itu bukan cuma bangunan.
Itu tanda bahwa di masa tuanya, mereka tidak dilupakan.
Tanda bahwa Karawang masih punya hati.
Dan tanda bahwa pemimpin yang baik itu bukan yang paling sering disorot kamera,
tapi yang paling sering menyentuh hidup orang lain.










