“Baper Baca Postingan Partner: Fenomena Psikologis yang Memalukan tapi Manusiawi Banget”
Ada momen tertentu yang bikin lo merasa norak sekaligus manusiawi:
lagi santai buka medsos, scroll… scroll… lalu jreng: postingan partner lo muncul.
Kalimatnya halus, estetik, universal.
Tapi entah kenapa, otak lo langsung menyimpulkan:
“Ini sindiran buat gue.”
Padahal hidup partner lo nggak berisi lo doang.
Dia punya temen, dunia kerja, keluarga, dinamika lain yang lo bahkan nggak sempat kepo.
Tapi tetap aja: yang lo baca cuma yang menusuk ke arah lo.
Seolah-olah semesta digital itu punya fitur auto-target ke hati lo.
Secara psikologi, ini disebut personalization bias—kecenderungan kita merasa segala sesuatu tentang kita, padahal tidak (Beck, 1979).
Dalam bahasa gue:
ego kita kadang sok penting.
Sok relevan.
Sok jadi pemeran utama di film orang lain.
Tapi jangan keburu malu.
Fenomena ini juga muncul karena otak emosional manusia itu overwork setiap kali berurusan dengan orang yang kita sayang.
Partner itu semacam trigger halus: apa pun yang dia lakukan, nada sensitivitas kita naik 300%.
Satu postingan ambigu bisa disulap jadi ceramah terselubung.
Caption puitis bisa berubah jadi sindiran keras.
Story random bisa terasa seperti “pukulan psikologis edisi limited.”
Kita baper bukan karena postingannya, tapi karena hubungan itu punya bobot emosional.
Lo sayang, lo takut kecewa, lo belum sembuh dari sesuatu, atau lo lagi nggak stabil—hasilnya? Interpretasi lo jadi hiperaktif.
Ada juga faktor attachment anxiety—kecemasan hubungan yang bikin lo merasa partner sedang “ngode”, padahal dia cuma berbagi quotes aesthetic biar feed rapi (Mikulincer & Shaver, 2016).
Dan jujur aja, sebagian dari kita memang punya hobi menyiksa diri sambil berasumsi:
“Pasti ini tentang gue.”
Padahal bisa jadi dia lagi ngomongin temennya yang drama, kerjaannya yang riweuh, atau dirinya sendiri yang lagi nyebelin.
Sarkas halusnya begini:
kadang kita bukan korban sindiran; kita cuma korban imajinasi yang kebablasan.
Tapi bukan berarti perasaan itu salah.
Perasaan tetap valid, hanya interpretasinya perlu dikasih kursi kecil biar nggak duduk di bangku director’s cut.
Yang lebih penting adalah cara lo mengelola baper itu.
Lo boleh ngerasa tersentil. Itu manusiawi.
Lo boleh mikir, “Ah, ini pasti tentang gue.” Itu normal.
Tapi sebelum nembak kesimpulan, kasih ruang buat logika jalan.
Bilang ke diri lo:
“Hidup partner gue luas. Gue cuma salah satu planetnya, bukan pusat tata surya.”
Kalau setelah merenung lo masih merasa terganggu, baru bicara baik-baik.
Bukan ngegas, bukan nuduh.
Cuma klarifikasi lembut:
“Gue baca postingan lo… dan entah kenapa hati gue agak kegeser. Itu tentang gue atau bukan?”
Kalau jawabannya bukan, ya belajar menerima.
Kalau jawabannya iya, ya tinggal atur ritmenya.
Pada akhirnya, cinta modern itu unik:
kadang bukan pasangan yang menyakiti kita, tapi pikiran kita sendiri yang lari terlalu cepat sementara kenyataan masih jalan santai.
Dan yang paling dewasa adalah belajar bedain mana sinyal nyata, mana cuma getaran halu.










