“Capek? Ya Wajar. Lo Lagi Ngerasain Nikmat yang Dulu Lo Minta Sendiri”
Ada satu kenikmatan yang sering kelewat kita sadari: letih. Iya, letih. Capek yang sekarang lo rasain dari pekerjaan yang dulu lo kejar habis-habisan. Ironisnya, begitu mimpi itu jadi kenyataan, kita malah fokus ke pegalnya, bukan ke proses panjang yang akhirnya ngantar kita ke titik ini.
Gue selalu mikir, ada jenis lelah yang justru nunjukin betapa hidupnya seseorang. Lelah yang lahir dari usaha, dari doa yang dulu dipaksa naik langit tiap malam, dari mimpi yang digenggam keras-keras supaya nggak jatuh di tengah jalan. Dan lucunya, manusia tuh sering lupa: capek adalah bukti pencapaian, bukan hukuman.
Dalam psikologi positif (Seligman, 2011), rasa lelah setelah kerja keras itu berkaitan sama konsep meaningful engagement—keterlibatan penuh dalam sesuatu yang kita anggap bermakna. Bahkan tubuh ngirim sinyal letih sebagai pengingat bahwa kita lagi melakukan sesuatu yang penting. Letih bukan tanda kelemahan, tapi tanda bahwa kita hadir seutuhnya.
Dan di balik itu semua, selalu ada ruang syukur. Karena nggak semua orang diberi kesempatan untuk lelah karena hal yang dulu mereka impikan. Banyak yang masih berdiri di luar pagar, nunggu pintu terbuka. Banyak yang masih berdoa buat dapat peluang yang sekarang sedang lo jalani, walau sambil ngos-ngosan.
Merasakan letih adalah reminder halus bahwa Allah masih sayang—masih ngasih kita kesempatan bergerak, berkarya, berproses. Setiap lelah menyimpan cerita, setiap napas berat menyimpan pelajaran. Dan di dalam syukur, segala capek rasanya berubah jadi bukti keberjalanan hidup: bahwa lo nggak stagnan, lo tumbuh.
Pada akhirnya, hidup tuh bukan tentang menghindari lelah, tapi menikmati perjalanan yang membuat lelah itu layak. Nikmati prosesnya, karena proseslah yang nanti jadi cerita paling manis ketika hasil akhirnya datang.










