Romantis Tanpa Bunga? Ya Bisa, Lah — Masa Standar Cinta Harus Ditentukan Florist & Frekuensi Chat?
Gue tuh sering ketawa kecil—kadang miris, kadang gemes—lihat standar romantis zaman sekarang. Seolah-olah cinta itu sah kalau nyapu timeline dengan bunga, gombalan, dan story aesthetic. Dan yang lebih lucu lagi: kalau lo jarang nanya kabar, langsung dicap, “Pasti lo nggak mikirin gue.”
Padahal belum tentu. Bisa jadi mikirin tiap hari, cuma nggak norak dengan broadcast perhatian.
Dalam teori hubungan modern, romantisme itu bukan soal gesture glamor, bukan soal frekuensi chat, dan bukan soal laporan harian “lagi apa.”
Romantis itu adalah attunement—keselarasan emosi dan kehadiran yang terasa (Gottman, 2011).
Tapi budaya online bilang: kalau nggak nanya kabar tiap tiga jam, berarti cinta lo low-bat.
Lucunya, orang yang paling sering nanya kabar belum tentu paling peduli.
Kadang cuma iseng.
Kadang cuma butuh validasi.
Kadang chat-nya panjang, tapi hatinya kosong.
Sementara ada orang yang jarang nanya kabar, tapi tiap kali lo drop, dia hadir duluan tanpa diminta.
Dia nggak heboh, tapi dia ada.
Dan “ada” itu jauh lebih romantis daripada spam chat penuh emotikon.
Romantis juga nggak harus datang dalam bentuk bunga.
Maksud gue… kalau cinta hanya bisa hadir melalui buket mawar, berarti kita semua tergantung penyedia logistik flora.
Padahal perhatian itu bisa tampil dalam bentuk yang lebih halus:
nyimak keluhan lo yang berulang tanpa bosan,
ngingetin makan meski lo ngegas,
atau cuma bilang, “Santai, gue ngerti,” tanpa kuliah tujuh bab.
Cinta yang dewasa itu bukan tentang broadcast.
Itu tentang kepekaan.
Tentang ngelihat kebutuhan orang lain meski dia nggak sempat bilang.
Tentang ngerti ritme orang tanpa harus disuapin jam per jam.
Dan tentang anggapan “jarang nanya kabar = nggak mikirin”?
Wah, kalau cinta diukur dari jumlah chat, robot customer service pasti paling romantis.
Faktanya: orang bisa mikirin lo setiap hari, tapi nggak selalu mengekspresikannya di layar.
Dalam psikologi komunikasi, itu disebut low-verbal but high-presence affection (Floyd, 2014).
Atau bahasa manusianya: ada yang nggak cerewet, tapi sayangnya dalam.
Romantis itu seharusnya tidak dinilai dari frekuensi pesan, tapi dari kualitas kepedulian.
Dari cara dia ada ketika lo butuh.
Dari cara dia berusaha meski lo nggak sadar.
Dari cara dia melihat lo, bukan mengawasi lo.
Jadi, kalau lo merasa tidak romantis hanya karena nggak jago bawa bunga, nggak jago gombal, atau nggak nanya kabar tiap tiga jam—tenang.
Romantis itu bukan kompetisi atensi.
Romantis itu seni kehadiran.
Dan kalau seseorang masih menilai cinta dari “berapa kali lo chat,” mungkin dia belum siap untuk cinta yang tidak butuh konfirmasi setiap menit.
Karena pada akhirnya…
Cinta yang tenang itu sering terlihat sepi, tapi justru paling tulus.
Yang jarang nanya kabar belum tentu nggak mikirin—kadang justru dia mikirin lebih dalam dari yang lo bayangin.










