ERACS: Melahirkan Tanpa Drama Berlebih
Di dunia persalinan modern, ada satu istilah yang lagi naik daun dan terdengar seperti nama band elektronik: ERACS. Padahal ini bukan grup musik, tapi singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery—sebuah pendekatan persalinan sesar yang jauh lebih manusiawi, lebih ilmiah, dan jauh… jauh lebih ramah tubuh dibanding praktik lama yang dulu membuat banyak ibu berakhir mirip pasien operasi zaman militer. Kini, sains mengajak kita beranjak dari “melahirkan = harus menderita dulu,” menuju konsep pemulihan yang cepat, nyaman, dan berbasis bukti. Ya, akhirnya peradaban bergerak.
Di dunia persalinan modern, ada satu istilah yang lagi naik daun dan terdengar seperti nama band elektronik: ERACS. Padahal ini bukan grup musik, tapi singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery—sebuah pendekatan persalinan sesar yang jauh lebih manusiawi, lebih ilmiah, dan jauh… jauh lebih ramah tubuh dibanding praktik lama yang dulu membuat banyak ibu berakhir mirip pasien operasi zaman militer. Kini, sains mengajak kita beranjak dari “melahirkan = harus menderita dulu,” menuju konsep pemulihan yang cepat, nyaman, dan berbasis bukti. Ya, akhirnya peradaban bergerak.
Secara akademik, ERACS adalah protokol multidisiplin yang dirancang untuk mempercepat pemulihan pasca operasi sesar melalui kombinasi manajemen nyeri yang lebih cerdas, mobilisasi dini, optimasi hidrasi, serta pendekatan anestesi yang tidak bikin pasien merasa habis digilas truk (Kehlet & Wilmore, 2002). Intinya: bukan lagi operasi → tirah baring → meringis seharian, tetapi operasi → bangun → makan → bergerak → merawat bayi lebih cepat. Perubahan paradigma ini bukan sulap, melainkan hasil kajian panjang tentang bagaimana tubuh sebenarnya bekerja ketika diberi stimulasi dan analgesia yang tepat (Devine, 2019).
Yang paling menarik dari ERACS adalah keberanian pendekatannya melawan mitos-mitos kuno yang entah datang dari mana. Misalnya, mitos bahwa pasien harus puasa panjang sebelum operasi. ERACS bilang: tolong jangan kelaparan, nanti metabolisme malah makin kacau. Atau mitos bahwa pasien harus istirahat total pasca operasi. ERACS membantah halus sambil membawa data: mobilisasi dini terbukti menurunkan komplikasi dan meningkatkan kenyamanan (Ljungqvist, 2017). Satirnya di sini: sering kali inovasi ilmiah justru memperbaiki apa yang sejak dulu dilakukan manusia hanya karena “katanya begitu.”
Pendekatan anestesi ERACS juga membuat pengalaman melahirkan terasa lebih bersahabat. Strategi analgesia multimodal mengurangi kebutuhan opioid, menjaga kepala tetap jernih, dan membuat ibu tidak merasa hidupnya sedang direstart ulang. Ini penting karena persalinan bukan hanya peristiwa medis; ia adalah peristiwa psikologis. Jika tubuh pulih lebih cepat, mental pun lebih stabil. Dan stabilitas mental ibu pasca melahirkan adalah investasi jangka panjang bagi seluruh keluarga, bukan sekadar efek samping yang kebetulan menyenangkan (Guglielminotti, 2020).
ERACS pun menekankan pentingnya kolaborasi tim: dokter kandungan, anestesi, perawat, konselor laktasi, bahkan suami yang biasanya bingung harus berdiri di mana. Semua bekerja demi satu tujuan: pemulihan yang optimal. Pendekatan terstruktur ini menunjukkan bahwa persalinan sesar tidak harus menjadi babak “survival mode,” tetapi bisa menjadi pengalaman yang terencana dan kurang menyiksa. Sisi sarkasnya? Memang begitulah: begitu ilmu berkembang, kita sadar bahwa banyak penderitaan dulu sebenarnya bisa tidak terjadi… asal ada panduan yang benar.
Pada akhirnya, ERACS bukan hanya protokol. Ia adalah simbol perubahan cara pandang: bahwa kelahiran—meski melalui operasi—tidak harus diikuti penderitaan panjang. Bahwa tubuh ibu patut dihormati, bukan diuji ketahanannya. Bahwa pemulihan cepat bukan kemewahan, tetapi standar yang seharusnya. Dan bahwa sains, ketika dipakai dengan benar, bisa menghapus banyak drama yang dulu dianggap “konsekuensi alami.”
Melahirkan itu sudah cukup berat dari sananya. Tidak perlu ditambah prosedur usang yang bikin hidup lebih susah. ERACS hadir sebagai pengingat lembut bahwa teknologi dan empati seharusnya berjalan berdampingan. Karena ketika ilmu medis mulai benar-benar berpihak kepada kenyamanan pasien, lahirlah bukan hanya bayi—tetapi cara baru melihat persalinan.
Daftar Pustaka
Kehlet, H., & Wilmore, D. W. (2002). Multimodal strategies to improve surgical outcome. The American Journal of Surgery, 183(6), 630–641.
Devine, P. C. (2019). Cesarean delivery and enhanced recovery after surgery (ERAS): Impact on maternal outcomes. Clinical Obstetrics and Gynecology, 62(1), 72–79.
Ljungqvist, O., Scott, M., & Fearon, K. C. (2017). Enhanced recovery after surgery: A review. JAMA Surgery, 152(3), 292–298.
Guglielminotti, J., Li, G., & Landau, R. (2020). Monitoring, anesthesia, and enhanced recovery after cesarean delivery: Current perspectives. Anesthesia & Analgesia, 130(5), 1314–1323.










