“Dipercaya Partner: Booster Jiwa, Penawar Sunyi, dan Vitamin Psikologis bagi yang Hidupnya Serba Multitasking”
Ada hal yang tidak pernah diajarkan dalam pelajaran hidup manapun: betapa berharganya punya partner yang percaya sama lo. Bukan percaya karena terpaksa, bukan karena “ya udahlah daripada ribut,” tapi percaya yang tulus—percaya yang membuat hidup yang tadinya kayak tabrakan jadwal, adu deadline, dan tumpukan tanggung jawab itu tiba-tiba terasa lebih mudah diatur.
Secara psikologis, kepercayaan dari partner itu bekerja seperti booster yang langsung menembak ke pusat saraf stres. Teori attachment menyebutnya secure base (Bowlby, 1988). Tapi kalau mau kita terjemahkan ke bahasa manusia sehari-hari: dipercaya itu bikin napas lebih panjang dan langkah lebih ringan. Tiba-tiba semua tuntutan hidup yang sebelumnya bikin kepala panas jadi terasa “masih bisa kok, masih kuat.”
Dan buat orang yang hidupnya multitasking—yang merangkap profesi, peran sosial, peran keluarga, peran emosional, kadang peran superhuman tanpa jubah—dipercaya partner itu bukan sekadar validasi. Itu obat penenang yang tidak dijual di apotek, sekaligus charger 200 watt untuk energi yang sering habis sebelum hari berakhir.
Di dunia yang selalu meminta kita kuat, mampu, tega, dan bertahan, kepercayaan partner itu menjadi tempat di mana lo boleh lemah sebentar tanpa dinilai gagal. Tempat di mana lo boleh bilang “gue capek” tanpa partner langsung menduga macam-macam. Tempat di mana lo nggak harus menjelaskan 100 slide PowerPoint tentang apa yang lo rasakan.
Kepercayaan itu juga mencegah burnout. Dalam psikologi kerja, ada konsep perceived partner support—dukungan yang dirasakan dari pasangan yang terbukti menurunkan stres, meningkatkan performa, dan menjaga stabilitas emosi (Cutrona, 1996). Tanpa dukungan ini, multitasking berubah menjadi survival mode. Dengan dukungan ini, multitasking berubah menjadi seni menjalani hidup.
Sarkas kecilnya begini:
kadang dunia meminta kita menjadi segalanya untuk semua orang, tapi lupa menyediakan satu orang yang percaya bahwa kita sudah melakukan yang terbaik.
Dan ketika akhirnya ada seseorang—partner lo—yang percaya tanpa syarat, itu rasanya seperti tubuh bilang:
“Oke, gue aman. Lanjut.”
Kepercayaan itu bukan cuma menguatkan, tapi menyembuhkan. Karena orang yang multitasking biasanya tidak punya jeda untuk pulih. Mereka terus bergerak, terus mengurus, terus menuntaskan. Tapi ketika partner percaya, tiba-tiba ada ruang untuk berhenti tanpa rasa bersalah. Itu moment kecil yang tidak terlihat, tapi efeknya bisa menyelamatkan kesehatan mental seseorang.
Jadi, sejatinya, dipercaya partner itu memang booster sekaligus cure.
Booster untuk terus hidup di tengah tuntutan.
Cure untuk luka yang tidak kelihatan tapi terasa setiap hari.
Booster untuk energi, cure untuk batin.
Booster untuk langkah, cure untuk hati yang capek.
Dan kalau lo punya partner yang percaya sepenuhnya sama lo—selamat, itu bukan keberuntungan. Itu salah satu bentuk cinta paling matang. Bentuk cinta yang tidak ribut, tidak cerewet, tidak mengekang, tapi selalu hadir saat dunia mulai kebanyakan tuntutan.










