“Curhatan Anak dan Degup Hati Orang Tua: Satir yang Haru”
Ada satu momen aneh dalam hidup orang tua, semacam kejutan yang tidak pernah tercantum di buku panduan parenting mana pun: ketika anak datang bukan untuk minta uang, bukan untuk nanya lauk makan malam, tapi… curhat. Dan curhatnya bukan soal pensil hilang atau PR matematika, melainkan curhat yang rasanya lebih cocok dibahas di kedai kopi daripada ruang tamu.
Di titik itu, orang tua biasanya diam sebentar. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena otaknya sedang reboot.
“Loh… kok dia cerita hal sebesar ini ke gue?”
Perasaan pertama: bangga.
Perasaan kedua: gugup.
Perasaan ketiga: “Gue siap nggak, ya?”
Secara psikologi, ini disebut kedekatan emosional tingkat lanjut, di mana anak melihat orang tua bukan lagi sebagai menara komando, tapi sebagai pelabuhan yang aman (Bowlby, 1988).
Secara satir: inilah momen ketika orang tua sadar bahwa mereka baru saja dipromosikan jadi ‘bestie,’ tanpa seleksi, tanpa interview.
Ada haru di sana, karena ternyata setelah segala debat, bentakan kecil, dan miskomunikasi bertahun-tahun, anak tetap percaya bahwa orang tua adalah tempat paling aman untuk membuka luka.
Tapi ada sarkas tipis juga: karena kadang orang tua sendiri belum sempat menyembuhkan lukanya, eh sudah harus jadi tempat berlabuh luka orang lain. Yah, begitulah hidup—kadang kita jadi pahlawan di saat kita sendiri sedang goyah.
Namun, bagian yang paling menyentuh adalah ketika orang tua menyadari bahwa curhat ini adalah bentuk penghormatan terbesar. Anak percaya bahwa orang tua bisa mendengar tanpa menghakimi, menasihati tanpa memaksa, dan hadir tanpa membuat drama tambahan. Ini level hubungan yang tidak semua keluarga bisa capai.
Dan itu bikin hati orang tua gemetar sedikit—campuran antara syukur dan “ya ampun, anak gue sudah sejauh ini hidupnya.”
Tetap saja, ada tugas psikologis yang harus dijalani: menahan diri untuk tidak langsung ceramah. Karena begitu nada menggurui keluar, curhatan itu bisa bubar seketika. Anak tidak butuh hakim; anak butuh pelukan emosional.
Dan ketika orang tua berhasil menahan insting “menyetir hidup anak,” di situlah hubungan mereka naik kelas.
Haru? Jelas.
Satir? Tentu saja.
Karena orang tua akhirnya sadar bahwa anak dulu kecil yang mereka gendong, kini sedang menggendong beban hidupnya sendiri—dan masih memilih mereka sebagai saksi.
Pada akhirnya, curhat anak kepada orang tua sebagai sahabat bukan hanya momen manis, tetapi juga tanda bahwa cinta keluarga ternyata bertumbuh diam-diam, bahkan ketika semua pihak merasa tidak sempurna.
Dan bagi orang tua, curhat itu seperti bisikan yang berkata:
“Tenang. Tugasmu belum selesai. Tapi kamu sudah melakukan banyak hal dengan benar.”










