Mengapa Kita Capek? Karena Mengurus Urusan Tuhan Lebih Rajin daripada Ikhtiar Sendiri
Menjelang akhir tahun, ada satu kalimat yang kadang lewat begitu saja, tapi makin ke sini rasanya makin berwibawa:
hidup ini singkat.
Singkat dalam cara yang tidak kita sadari karena kita terlalu sibuk mengejar hal-hal yang bahkan tidak kita ingat setelah seminggu.
Kita terjebak dalam rutinitas, drama kecil yang kita pelihara, ambisi yang kadang lebih mirip ego, dan keinginan-keinginan yang kalau dipikir lagi bahkan tidak membuat kita lebih bahagia. Sampai suatu hari, waktu menepuk pundak, bilang, “Eh, setahun lagi berlalu. Lo dapet apa?” Lalu kita bengong kayak habis disuruh ngitung integral.
Secara psikologis, manusia itu memang punya kecenderungan menaruh energi pada hal-hal remeh yang seharusnya tidak menguras kita (Kahneman, 2011). Sementara hal-hal yang benar-benar penting—kesehatan, relasi bermakna, ketenangan batin—justru sering kita taruh di urutan bawah. Kita sibuk mengurus semua yang seharusnya bisa dilepas, dan menunda semua yang seharusnya dikejar.
Padahal hidup, jika dilihat dari jarak yang pas, sebenarnya sederhana:
kita hanya ditugaskan untuk ikhtiar.
Bekerja secukupnya. Berbuat baik sewajarnya. Menjaga hati sebisanya. Selebihnya bukan wilayah pengaturan kita. Sisanya milik Dia—Pemegang skenario yang kadang suka bikin plot twist tapi selalu tepat waktu.
Terlalu sering kita merasa harus memegang kendali atas semua hasil, semua hubungan, semua keadaan. Padahal kontrol itu ilusi yang bikin capek. Kita lupa bahwa tugas manusia hanyalah bergerak, bukan menentukan hasil. Dalam literatur spiritual modern, ini disebut surrender with responsibility—bergerak sungguh-sungguh, menyerah sepenuhnya (Schwartz, 2018). Keduanya bukan kontradiksi; keduanya cara hidup yang seimbang.
Akhir tahun selalu membawa aura kontemplatif:
apa yang sudah kita perjuangkan?
apa yang sebenarnya tidak perlu diperjuangkan?
apa yang seharusnya ditinggalkan agar kita bisa hidup lebih ringan?
Karena hidup singkat bukan hanya peringatan—itu juga undangan. Undangan untuk lebih sadar dalam memilih: waktu kita mau dipakai untuk apa dan untuk siapa. Mana yang layak menyita perhatian, mana yang harus dilepas tanpa upacara.
Mungkin inilah saatnya kita betul-betul ngelus dada dan bilang:
“Gue akan berusaha, tapi gue juga nggak akan memaksa.”
Kalau berhasil, alhamdulillah.
Kalau gagal, mungkin itu bukan jalan kita.
Yang penting kita tidak menyiksa diri sepanjang proses.
Akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak hal yang kita lakukan, tapi seberapa bermakna langkah yang kita pilih.
Dan tahun yang hampir selesai ini mengingatkan kita bahwa:
kita tidak perlu memenangkan semuanya—
kita hanya perlu fokus pada yang membuat jiwa kita tetap hidup.
#menujuakhirtahun










