Emotional Capacity Management: Skill yang Lebih Penting dari Leadership Training

Spread the love

Gue selalu percaya bahwa hubungan itu kayak naik wahana roller-coaster : di awal lo excited, di tengah mulai mual, dan di akhir lo cuma bisa berharap masih inget cara jalan lurus. Yang bikin lebih rumit adalah ketika seseorang tiba-tiba nanya, “Lo kuat nggak sih jalanin ini semua?” Padahal dia nggak sadar, tiap harinya lo sudah jadi pahlawan super tanpa jubah—atau lebih tepatnya, pahlawan super yang capenya nggak dianggap.

Menakar kemampuan diri dalam hubungan itu mirip kayak memeriksa baterai HP tua. Kadang kelihatan 80% padahal pas dipake lima menit langsung ambruk ke 12%. Kita semua punya batas, tapi dunia sekitar kadang mengira kita punya unlimited package untuk sabar, mengalah, memahami, mendengar, menenangkan, meredam drama internal, dan tetap tampil woles kayak background lagu akustik.

Ada hari-hari ketika lo bangun dan mikir, “Gue bisa nih nerusin hubungan ini.” Tapi ada juga hari-hari ketika lo merasa udah berubah jadi operator call center emosional: selalu harus menjawab, merespon, dan kalau bisa, sambil senyum. Padahal, dalam teori psikologis, ketahanan diri itu tidak muncul dari kemampuan bertahan terus-terusan—tapi dari kemampuan mengenali kapan lo udah mulai bocor dari dalam (McEwen, 2000). Bahasa kasarnya: kalau lo udah mulai ngomel sendirian di kamar mandi, itu bukan tanda lo kuat. Itu tanda lo butuh istirahat sebelum pecah kayak piring melamin.

Dan lucunya, banyak orang suka bilang, “Santai aja, jadi diri sendiri.”
Padahal dalam praktiknya, mereka maunya lo jadi diri sendiri versi mereka.
Versi yang calm, bijak, nggak baper, selalu ngerti, selalu ready.
Pokoknya versi yang bahkan lo sendiri belum sempat download pembaruannya.

Dalam hubungan apa pun—pasangan, keluarga, kerja, pertemanan—cara menakar kemampuan diri adalah melihat berapa banyak energi lo yang masih tersisa setelah interaksi, bukan sebelum. Kalau setelah ngobrol sama seseorang lo merasa kayak habis ikut lomba angkat galon, itu tanda hubungan itu sedang memakan kapasitas lo pelan-pelan. Kalau setelah ketemu seseorang lo lebih butuh diam daripada napas, itu tanda alarm internal lagi berkedip merah.

Lalu bagaimana cara menakar ketahanan?
Kadang jawabannya datang dari hal sederhana:
apakah lo masih bisa jadi diri lo tanpa harus minta maaf terus?

Kalau lo harus meredam spontanitas karena takut salah.
Kalau lo harus menimbang tiap kata karena takut dianggap sensitif.
Kalau lo harus ngatur napas sebelum ngomong karena takut bikin suasana berubah.
Kalau lo harus menyesuaikan diri sampai lupa bentuk asli diri lo.

Itu bukan ketahanan.
Itu adalah latah emosional akibat survival, kata para akademisi (Rogers, 1959).
Dan itu tanda lo sudah melewati batas ketahanan yang sehat.

Ketahanan diri itu bukan marathon tanpa berhenti.
Ketahanan diri itu justru kemampuan untuk berhenti ketika perlu, dan bilang dengan jujur:
“Gue capek. Gue butuh ruang. Gue butuh jadi manusia, bukan alat penenang.”

Dan kalau hubungan itu memang beneran layak diperjuangkan, orang di seberang sana akan ngerti. Dia akan bilang, “Oke, gue geser sedikit. Lo juga geser sedikit. Kita cari ritme.” Karena hubungan yang sehat itu bukan tentang siapa paling kuat menahan beban, tapi siapa paling mau menyesuaikan tanpa harus kehilangan diri.

Pada akhirnya, cara paling sarkas tapi paling jujur untuk menakar ketahanan diri dalam hubungan adalah begini:

Kalau untuk tetap menjadi diri sendiri aja lo harus kerja keras, hubungan itu sedang mengurangi umur bukan menambah makna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *