“Satu Kebaikan di Antara Seribu Keburukan”

Ada momen-momen kecil dalam hidup yang awalnya cuma rutinitas tak berarti. Seperti berhenti lima menit di satu titik lamer, nunggu giliran lewat, lihat lalu lintas yang itu-itu saja, dengar deru mesin truk, motor, mobil. Biasa. Tidak ada yang istimewa. Sebuah tempat yang bahkan tak kita beri nama, tapi tubuh hafal ritmenya.
Sampai suatu hari, lo buka status temen.
Dan titik yang biasa lo lewati itu berubah jadi TKP.
Tiba-tiba ada truk rem blong.
Tiba-tiba ada suara hantaman.
Tiba-tiba ada tubuh-tubuh yang beberapa jam sebelumnya masih hidup, masih bercanda, masih punya rencana.
Dan tiba-tiba dunia menyentak kita dengan satu kenyataan pahit: musibah itu tidak perlu undangan.
Yang bikin ngeri bukan hanya tragedinya.
Tapi kesadaran bahwa itu bisa jadi kita.
Karena lo pernah berhenti di situ. Lima menit.
Kadang lebih.
Kadang sambil nyari playlist, kadang sambil ngeluh, kadang sambil mikir pulang mau makan apa.
Dan entah kenapa, hari itu bukan giliran lo.
Ada rasa aneh yang muncul—perpaduan syukur, takut, dan getir.
Syukur karena masih diberi napas.
Takut karena hidup begitu rapuh.
Getir karena yang kena bukan lo… tapi seseorang yang nggak pernah mimpi hari itu akan jadi hari terakhirnya.
Saat tragedi begini lewat di depan mata, ada bisikan kecil yang muncul dari tempat paling sunyi dalam diri:
“Gue selama ini udah ninggalin apa, sih?”
Setiap hari kita sibuk berjuang, tapi juga sibuk bikin salah.
Ngomel-ngomel.
Menyakiti tanpa sadar.
Menghilangkan kesempatan orang lain.
Mengecewakan diri sendiri dan orang sekitar.
Dan dalam ribuan kekurangan itu, tragedi mengajarkan sesuatu:
bahwa manusia cuma butuh satu kebaikan kecil untuk dikenang.
Satu bantuan sederhana.
Satu kata lembut.
Satu perhatian kecil yang menyelamatkan orang lain dari hari yang buruk.
Satu tindakan baik yang mungkin nggak mengubah dunia, tapi mengubah seseorang.
Karena kalau hidup bisa hilang secepat rem blong,
maka satu-satunya hal yang pantas dikejar adalah jejak yang nggak memalukan kalau besok nama kita tiba-tiba dipanggil.
Lakukan yang terbaik yang kita bisa,
agar tertinggal satu kebaikan di antara seribu keburukan tentang kita.
Karena dunia ini terlalu singkat untuk jadi hanya tempat singgah,
tapi cukup panjang untuk meninggalkan makna.










