“Pulang ke Jogja: Cerita Seorang Perantau yang Menitipkan Masa Depannya pada Senja dan Gudeg”

Ada sesuatu yang selalu menempel di dada setiap kali gue bilang, “Gue ini anak Jogja.”
Bukan cuma soal lahir–besar di kota yang lembut itu, tapi karena Jogja punya cara aneh untuk bikin penghuninya merasa istimewa tanpa harus sombong. Jogja itu seperti teman lama yang nggak banyak bicara, tapi selalu punya ruang kosong buat lo pulang.
Gue dulu merantau ke pinggiran ibu kota. Dari kota dengan ritme pelan tapi pasti, pindah ke tempat di mana orang-orang jalannya kayak dikejar deadline kehidupan. Dari suasana di mana lampu merah bisa jadi tempat merenung, pindah ke suasana di mana klakson adalah bahasa kedua.
Tapi di perantauan itulah gue membentuk diri.
Gue belajar keras.
Gue jatuh bangun.
Dan akhirnya gue bulatkan niat: membaktikan hidup sebagai dokter berseragam coklat di Jawa Barat.
Sebuah keputusan yang pelan-pelan mengubah perjalanan gue. Profesi itu bukan cuma kerja; itu janji. Janji untuk hadir di tengah masyarakat, meski kadang berhadapan dengan tekanan, risiko, dan tanggung jawab yang rasanya lebih berat dari badan sendiri kalau lagi kecapekan.
Meski begitu, gue tetap bangga.
Bukan hanya karena seragam ini, tapi karena gue membawa identitas sebagai orang Jogja. Identitas yang lembut, tetapi tegas. Yang sederhana, tetapi punya karakter. Yang kalem, tetapi nggak pernah menyerah. Aneh ya? Jogja itu kayak template karakter yang nggak pernah gagal bikin lo jadi manusia yang bisa diandalkan.
Sebagai perantau, sering banget gue merasa kayak lagi berdiri di dua dunia. Satu kaki di tanah pelayanan, satu kaki di tanah kenangan. Dan dari dulu, ada satu cita-cita yang diam-diam gue simpan:
purnabakti di Jogja.
Kenapa?
Karena Jogja itu rumah. Rumah yang nggak pernah protes meski sering ditinggal. Rumah yang selalu bisa memberi pelukan halus begitu lo memasuki gerbang kota dan melihat tulisan “Selamat Datang.” Rumah yang bikin napas lebih panjang dan hati lebih tenang.
Gue membayangkan hari-hari pensiun nanti:
bangun pagi tanpa alarm, keluar rumah dengan sandal jepit, duduk di warung gudeg favorit yang rasanya nggak pernah berubah sejak zaman masih pakai seragam putih-biru. Lalu makan sambil denger obrolan ibu-ibu pasar, merhatiin mahasiswa baru yang wajahnya penuh harapan, dan sesekali senyum sendiri karena hidup ternyata bisa sesederhana itu.
Selepas sarapan, gue bakal jalan kaki menyusuri tapak tilas masa muda. Tempat gue nongkrong dulu, jalan kecil yang jadi saksi tawa dan patah hati, kampus yang dulu terasa besar banget. Semua itu ingin gue nikmati pelan-pelan, seperti baca ulang buku lama yang halaman-halamannya sudah lunak karena sering disentuh.
Dan malam harinya, atau mungkin saat senja jatuh di utara, gue bakal memutar lagi lagu KLA Project: “Pulang ke Jogja.”
Lagu yang dari dulu udah jadi semacam kompas emosional.
Lagu yang ngingetin gue bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada titik awal yang menunggu untuk dipeluk lagi.
Hidup sebagai perantau membuat gue banyak belajar tentang dunia—tapi menjadi anak Jogja membuat gue ingat dari mana hati gue berasal. Dan suatu hari nanti, ketika waktu pensiun datang mengetuk pintu, gue ingin pulang. Bukan karena lelah, tapi karena akhirnya gue bisa memilih tempat paling tepat untuk menua dengan damai.
Jogja menunggu.
Dan gue akan kembali.
Dengan semua cerita, semua luka, semua syukur, dan semua kebanggaan.










