“Ketika Pasien Tidak Kasih Jeda, dan Lelah Datang Tanpa Permisi”

Ada hari-hari dalam dunia pelayanan—entah itu nakes, konselor, admin klinik, atau siapa pun yang bekerja dengan “manusia sebagai objek kerja”—di mana pasien datang seperti gelombang pasang: sambung menyambung, tanpa ruang, tanpa celah, tanpa napas. Lo cuma bisa bilang, “Baik, silakan,” sambil dalam hati teriak, “MASA NGGAK ADA RECESS 3 MENIT AJA?”
Lalu datanglah dia… capek.
Tidak lewat pintu depan, tidak mengetuk sopan, tidak mengirim pesan dulu. Dia cuma—nyelonong.
Secara psikologis, kelelahan yang muncul mendadak itu sering disebut emotional exhaustion, bagian dari sindrom burnout (Maslach, 1981). Dan rasanya beda dengan capek fisik. Ini capek yang datang dari akumulasi interaksi, energi emosional yang kesedot, dan tanggung jawab sosial yang terus nempel tanpa mau turun dari punggung.
Masalah terbesar bukan pada jumlah pasiennya. Tapi ketiadaan jeda.
Jeda itu kayak titik koma dalam hidup: kecil, tapi tanpa itu kalimat jadi sesak dan maknanya berantakan. Studi tentang beban kerja menunjukkan bahwa otak manusia butuh micro-breaks untuk mempertahankan konsentrasi dan empati (Kim et al., 2017). Tanpa itu, kita bukan cuma lelah—kita berubah jadi robot yang disfungsional.
Ironisnya, dunia kesehatan dan pelayanan sering mengglorifikasi kerja terus-menerus. Ada budaya “nakes kuat nggak kenal capek”, “pelayan publik harus selalu ramah”, atau “pasien kan butuh cepat dilayani.” Betul, pasien butuh cepat. Tapi penyedia layanan juga butuh napas. Sistem sering lupa bahwa manusia bukan charger fast-charging; ada batas alaminya (Hobfoll, 1989).
Dan ketika batas itu dilewati?
Empati mulai menipis.
Nada suara mulai berubah.
Senyum jadi palsu.
Kepala mulai menciptakan pertanyaan sinis, “Abis ini siapa lagi?”
Semua itu bukan karena kita jahat. Tapi karena sistem mengambil lebih banyak daripada yang kita punya untuk diberikan.
Yang menarik, rasa capek yang “nyelonong” itu sering muncul bukan saat kerja terberat, tapi justru ketika kita merasa “seharusnya gue masih kuat.” Itulah paradoksnya: kita capek bukan hanya karena beban, tapi karena ekspektasi bahwa kita tak boleh capek (Bianchi et al., 2015).
Namun di balik semua itu, ada hal lembut yang sering terlupakan: manusia diciptakan dengan ritme. Ada naik, ada turun, ada tenaga, ada lelah. Mengabaikan ritme itu seperti memaksa lagu dalam mode fast-forward—tetap terdengar, tapi tidak enak didengar.
Jadi, ketika pasien datang bertubi-tubi dan rasa capek tiba-tiba nongol tanpa mengetuk pintu, itu bukan tanda bahwa kita kurang profesional. Justru itu bukti bahwa kita manusia. Manusia yang punya batas, punya emosi, dan punya tubuh yang juga ingin diperlakukan dengan hormat.
Kadang refleksi sesederhana ini perlu diucapkan keras-keras:
Istirahat itu bukan kemewahan. Itu kebutuhan biologis.
Dan kadang, untuk tetap jadi manusia yang baik bagi orang lain, kita perlu dulu jadi manusia yang baik bagi diri sendiri.










