Ketika Dua Langit Runtuh: Mana Lebih Berat, Kehilangan Ayah atau Ibu?

Ada satu pertanyaan yang sering mampir di kepala orang-orang tapi jarang benar-benar diucapkan lantang: lebih berat kehilangan Ayah atau kehilangan Ibu? Pertanyaan yang kalau dibahas di warung kopi bisa jadi bikin suasana langsung mellow, tapi kalau dibahas di kelas psikologi malah berubah jadi debat ilmiah. Gue coba bawa keduanya: sedikit satir, sedikit sarkas, tapi tetap akademis biar nggak dibilang cuma curhat berkedok riset.
Kalau ngomongin Ibu, mau tak mau kita bicara tentang figur yang sejak awal jadi “rumah biologis” kita. Ada alasan kenapa banyak teori perkembangan menekankan peran kelekatan dengan ibu sebagai pondasi regulasi emosi (Bowlby, 1988). Kehilangan ibu sering dianggap setara dengan kehilangan kompas batin; kayak GPS yang tiba-tiba kehilangan sinyal pas lagi di tengah jalan tol. Brutal.
Ayah, di sisi lain, seringkali digambarkan sebagai jangkar struktur, stabilitas, dan identitas sosial. Teori peran keluarga menggambarkan ayah sebagai sumber perlindungan dan penegasan batas-batas dunia luar (Lamb, 2010). Kehilangan ayah bisa terasa seperti rumah yang tiba-tiba kehilangan tiang utama—kelihatannya masih berdiri, tapi goyang dikit bisa roboh.
Sarkas sedikit: masyarakat suka bilang, “Ibu itu tidak tergantikan.” Eh, padahal dalam penelitian kehilangan figur ayah, rasa kehilangan peran identitas juga sering memicu krisis jangka panjang (Palkovitz, 2014). Ironisnya, ayah sering dianggap “cadangan emosional,” padahal pas hilang, banyak anak baru sadar betapa besar pilar yang selama ini diam-diam menahan atap.
Kalau mau sedikit lebih emosional, kehilangan ibu sering menyapu habis wilayah-wilayah kecil dalam hidup yang paling lembut: aroma masakan, cara menegur, sampai senyum yang entah kenapa selalu bisa menurunkan tensi. Memori-memori sensorik ini punya kontribusi besar dalam memicu duka mendalam yang berlapis-lapis (Neimeyer, 2001). Kata lain: kehilangan ibu itu seperti kehilangan tekstur dunia.
Sedangkan kehilangan ayah cenderung meninggalkan ruang kosong yang bentuknya struktur. Kayak ada bagian hidup yang tadinya diurus “yang tegas-tegas” tiba-tiba harus lo ambil alih. Dan beratnya, perubahan ini seringkali memicu percepatan kedewasaan yang terlalu cepat, bahkan traumatis (Harper & Fine, 2006). Jadi ketika ayah tiada, dunia berubah dari “gue anak” menjadi “gue harus jadi dewasa sekarang.”
Namun kalau mau jujur, membandingkan keduanya itu seperti membandingkan jatuh dari lantai 15 atau lantai 20: sama-sama sakit, sama-sama fatal, cuma beda gaya. Psikologi kehilangan menegaskan bahwa beratnya duka bukan ditentukan oleh status orang tuanya, tapi kedalaman hubungan, pola komunikasi, dan kualitas kelekatan emosional (Stroebe & Schut, 1999). Artinya: siapa yang paling dekat, dialah yang paling meninggalkan lubang terdalam.
Yang membuat topik ini semakin tricky adalah dinamika keluarga modern. Ada yang dekat dengan ibu, tapi figur ayah jadi “sahabat hidup.” Ada yang ibunya keras, ayahnya lembut. Ada pula yang hubungan dengan salah satu orang tua rumit, penuh luka, tapi kehilangan tetap terasa menyayat, justru karena banyak hal yang belum sempat dibereskan. Proses duka kadang lebih dipicu hal yang tidak selesai ketimbang hal yang indah (Worden, 2009).
Secara sosiologis, masyarakat cenderung mengagungkan ibu sebagai pusat emosional dan ayah sebagai pusat rasionalitas (Connell, 1995). Bias bias budaya ini akhirnya membentuk narasi bahwa kehilangan ibu harus lebih menyakitkan, atau kehilangan ayah harus lebih “menggetarkan.” Padahal manusia lebih kompleks daripada template budaya.
Jika mau lebih sinis sedikit: orang yang bilang salah satu lebih berat biasanya belum pernah kehilangan keduanya. Karena orang yang sudah mengalami keduanya biasanya hanya bisa diam lama ketika ditanya, lalu menjawab, “beda.” Bukan lebih, bukan kurang — hanya beda. Dua duka dari dua arah yang tak saling meniadakan.
Yang sering terjadi adalah: kehilangan ibu membuat dunia kehilangan kehangatan, kehilangan ayah membuat dunia kehilangan bentuk. Kehilangan keduanya? Itu seperti dunia kehilangan dirinya sendiri. Kombinasi paling tak ingin dialami siapa pun.
Anehnya, duka—seberat apa pun—punya cara bekerja yang ajaib. Otak manusia punya kapasitas untuk menyusun ulang makna, menemukan narasi baru, dan membangun kembali identitas setelah kehilangan (Park, 2010). Kita diremukkan, tapi juga diberi kemampuan merangkai ulang serpihan itu menjadi sesuatu yang menguatkan.
Jadi, mana yang lebih berat? Jawabannya bukan “Ayah” atau “Ibu,” tapi “yang paling mencintai dan dicintai.” Duka adalah bukti dari keterhubungan. Dan setiap keterhubungan itu unik, tidak bisa dipetakan lewat template perbandingan.
Pada akhirnya, kehilangan orang tua—siapa pun—adalah momen ketika hidup menepuk pundak kita dan berkata: “Mulai sekarang, kamu harus berjalan dengan ingatan, bukan bimbingan langsung.” Dan di sanalah hidup mulai terasa sunyi, tapi juga diam-diam mulai menumbuhkan keberanian.
Tidak ada kehilangan yang lebih ringan. Yang ada hanyalah kehilangan yang berbeda warnanya. Dan tidak ada satupun yang mudah.
DAFTAR PUSTAKA
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
Connell, R. W. (1995). Masculinities. University of California Press.
Harper, C., & Fine, M. (2006). The Effects of Parental Loss on Child and Adolescent Development. Routledge.
Lamb, M. E. (2010). The Role of the Father in Child Development. Wiley.
Neimeyer, R. A. (2001). Meaning Reconstruction & the Experience of Loss. American Psychological Association.
Palkovitz, R. (2014). Fathering and Parental Loss: Identity, Role, and Long-Term Impact. Palgrave Macmillan.
Park, C. L. (2010). Making Sense of the Meaning-Making Model. Psychological Inquiry.
Stroebe, M., & Schut, H. (1999). The Dual Process Model of Coping with Bereavement. Death Studies.
Worden, J. W. (2009). Grief Counseling and Grief Therapy: A Handbook for the Mental Health Practitioner. Springer.










