“Dua Dekade, Satu Foto, dan Seluruh Hidup Gue yang Tiba-Tiba Menitip Pesan”

Ada momen kecil dalam hidup yang rasanya seperti tusukan halus ke dada—nggak sakit, tapi bikin napas tertahan. Salah satunya: ketika tanpa sengaja gue nemuin foto keempat anak gue. Foto yang dulu cuma hasil jepretan asal, tapi sekarang berubah jadi portal waktu. Dua dekade lewat begitu aja, dan gue cuma bisa bengong: kok tiba-tiba udah sejauh ini, ya?
Gue inget jelas masa ketika mereka masih bocah-bocah kecil dengan baju lucu yang kebesaran, rambut berantakan, dan tawa yang bisa bikin rumah paling sumpek pun terasa kayak taman. Ilmu perkembangan psikologi bilang bahwa memori orang tua sering nempel kuat justru pada momen yang nggak disengaja—momen rutin yang jadi kenangan emosional (Kagan, 1984). Mungkin karena itu foto sederhana ini terasa kayak bom nostalgia yang jatuh di kepala gue.
Di titik waktu sekarang, rasanya kayak gue baru kedip sebentar, lalu brak! mereka sudah berdiri tegak sebagai manusia-manusia yang jauh lebih hebat dari apa yang gue bayangkan. Dan lucunya, meski gue tahu anak orang lain di luar sana banyak yang lebih cerdas, lebih prestisius, lebih “wah”—gue tetep aja ngerasa paling bangga di dunia. Ini bukan buta fakta; ini cuma fenomena yang disebut parental bias of attachment (Ainsworth, 1979). Bahasa kasarnya: anak sendiri selalu paling bikin hati meleleh.
Yang bikin gue tambah tersentuh adalah ingatan tentang semua kekurangan gue sebagai orang tua. Gue bukan orang tua ideal; nggak seperti tipe-tipe ortu yang selalu punya stok waktu, uang, energi, dan kesabaran. Banyak teori parenting bilang bahwa orang tua sering merasa tidak cukup baik karena standar sosial yang toxic (Hays, 1996). Dan jujur, gue relate banget. Tapi anehnya, justru di tengah keterbatasan itu, gue dititipi empat anak yang—masya Allah—nggak pernah bikin gue merasa gagal.
Mereka patuh.
Mereka taat.
Mereka nggak pernah bikin list permintaan absurd kayak “Ayah aku pengen ini itu pokoknya sekarang juga” yang sering gue denger dari cerita temen-temen gue sendiri. Anak-anak orang, maaf, kadang kayak notifikasi aplikasi: minta di-update terus, wajib direspon cepat. Anak-anak gue? Mereka kayak versi premium: tenang, stabil, dan tidak banyak drama.
Di sini titik syukur gue makin dalam. Karena kadang Allah menitipkan hadiah yang kita bahkan nggak berani minta. Dalam ilmu psikologi moral, anak-anak yang tumbuh dengan stabilitas emosi seringkali mencerminkan dinamika keluarga yang—meski sederhana—hangat dan konsisten (Dunn, 2004). Jadi mungkin gue nggak sehebat orang tua lain, tapi cinta itu cukup terdengar, cukup terasa, cukup hidup. Dan mereka tumbuh dari cinta itu.
Lalu gue melirik hidup sekarang.
Tiga dari empat anak gue—kuliah.
KULIAH.
Kalimat itu aja bikin gue pengen tepuk bahu diri sendiri, kayak, “Bro, kita berhasil nyampe sejauh ini.” Karena jujur, di masa lalu, gue kadang mikir: apa gue mampu? Pendidikan tinggi itu bukan hal ringan, dan gue sadar banyak ortu jauh lebih mapan. Tapi alhamdulillah, Allah ngasih rezeki lewat jalan-jalan yang bahkan gue nggak prediksi.
Dan sekarang… tinggal si bungsu.
Jagoan kecil.
Satu-satunya cowok.
Semata wayang yang gue harap bisa jadi pewaris energi laki-laki dalam keluarga: tangguh, lembut, bertanggung jawab, dan tetap punya hati yang halus untuk keluarga. Para peneliti keluarga bilang bahwa anak bungsu sering membawa dinamika unik: kadang manja, kadang dewasa sebelum waktunya, tergantung bagaimana dia melihat kakak-kakaknya (Sulloway, 1996). Kalau teori itu benar, anak gue ini punya tiga role model yang luar biasa.
Dan gue percaya dia bisa.
Karena dia dibesarkan bukan hanya oleh gue, tapi oleh tiga kakak perempuan yang sudah tumbuh dengan hati yang bersih.
Kalau boleh jujur, foto itu bukan sekadar foto. Itu semacam catatan harian diam—semua lelah, tawa, kekhawatiran, doa, kegagalan, kebangkitan, semua terselip di sana. Dua dekade terasa cuma beberapa tarikan napas, tapi jejaknya? Panjang, penuh cerita.
Ada orang bilang, “Anak adalah investasi masa depan.”
Menurut gue, nggak.
Mereka bukan investasi.
Mereka adalah amanah—dan hadiah—yang mengubah cara lo berdiri di dunia.
Hari ini gue cuma ingin bilang satu hal:
Alhamdulillah.
Terima kasih, Tuhan, karena menitipkan empat anak yang bukan hanya tumbuh, tapi membuat gue ikut tumbuh.
Kalau dunia menilai gue seribu kekurangan, gue berharap satu kebaikan yang menempel di diri anak-anak gue kelak cukup untuk jadi alasan bahwa gue pernah berjuang dengan sepenuh hati.
Dan semoga si bungsu—pewaris semangat laki-laki keluarga—melanjutkan cerita ini dengan caranya sendiri: kuat, rendah hati, dan membawa cahaya yang sama yang dulu gue sematkan di langkah pertama mereka.










