BIARLAH MEREKA MENILAI, KITA TETAP MELANGKAH: SENI gimana TIDAK TERGANGGU OLEH OMONGAN ORANG

Spread the love


Sekonyong-konyong, gue teringat pertemuan sama sohib, secara kita kenal udah lama, sejak masih ngider ngamen klinik ke klinik belum pake seragam coklat Umar Bakri. Gue ketemunya di tempat steam mobil, karena dia nepuk punggung gue duluan, nyaris salah paham gue kirain ada yg gendam. Ga tau awalnya basa basi bahas apa, ujung nya jadi bahas topik lumayan serius. Gue lgsg buka tablet dan buat catatan di blog ini, kali aja bisa jadi tambahan wawasan org lain, kalo pun tidak gapapa, namanya juga usaha mancing jariyah.

Singkatnya, ini percakapan yang cuma bisa terjadi antara dua orang yang sudah lama makan asam-garam hidup: obrolan yang lahir bukan di ruang rapat. Obrolan jujur, tanpa topeng, tanpa gelar, tanpa formalitas. Dan dari obrolan itu muncul satu pertanyaan sederhana tapi menghantam dada:

“Siapa sih yang paling tahu diri kita?”

Jawabannya nggak ribet: kita sendiri.
Bukan teman yang kadang cuma hadir pas suasana enak.
Bukan saudara yang bisa saja sibuk dengan drama rumahnya.
Bukan orang lain yang menatap kita dari filter pikirannya masing-masing.

Dalam psikologi sosial, penilaian orang terhadap kita itu bukan cerminan diri kita, tapi cerminan mereka—cara berpikir mereka, luka masa lalu mereka, rasa iri mereka, bahkan ketidakseimbangan emosional yang sedang mereka alami (Jones & Nisbett, 1971). Jadi ketika ada orang menilai buruk, sering kali itu bukan karena kita buruk… tapi karena hati mereka sedang berantakan.

Lucunya, netizen (istilah gue utk para pengamat kehidupan orang lain) itu ahli sekali bikin definisi tentang kita tanpa pernah benar-benar mengenal kita. Kalau kita tegas, dibilang sombong. Kalau kita santai, dibilang tidak peduli. Kalau kita berkembang, dibilang pamer. Kalau kita gagal, dibilang pantas. Seolah hidup kita ini film di mana semua orang bebas jadi kritikus.

Yang lebih satir lagi, orang kadang menilai buruk bukan karena fakta, tapi karena mereka butuh pelampiasan. Teori projection menjelaskan bahwa manusia cenderung memproyeksikan kekurangan dirinya ke orang lain (Freud, 1920). Makanya, ketika mereka bilang kita buruk, bisa jadi itu cuma cara halus untuk menutupi kekurangan mereka sendiri. Sederhananya: mereka ribut, karena hidup mereka sendiri tidak cukup menarik.

Sebaliknya, ada juga yang menilai kita “baik”. Tapi penilaian itu bukan sertifikat moral bagi kita. Bisa jadi mereka sedang dalam kondisi positif, hati lapang, pikiran bening—jadi apa pun yang mereka lihat tampak indah. Bukan karena kita suci, tapi karena lensa mereka lagi bersih. Ingat, penilaian baik juga tetap berasal dari sudut pandang orang lain, bukan dari kebenaran objektif.

Itulah kenapa, kalau kita hidup dengan tujuan untuk memuaskan semua orang, itu sama saja seperti mencoba mengatur cuaca: mustahil dan bikin sakit kepala.

Dalam literatur psikologi modern, fokus pada opini orang disebut external validation trap, jebakan yang membuat seseorang kehilangan identitas karena terlalu sibuk mengejar pengakuan (Deci & Ryan, 2000). Hidup jadi capek. Napas terasa sempit. Kita merasa gagal hanya karena tidak cocok dengan standar orang yang hidupnya saja belum beres.

Makanya penting untuk mulai berdamai dengan satu hal:
Opini mereka bukan urusan kita.
Yang penting adalah bagaimana kita memandang diri sendiri ketika tidak ada siapapun yang melihat.

Mulai hari ini, berhenti sibuk membuktikan diri.
Berhenti menjelaskan.
Berhenti minta dimengerti.
Karena orang hanya mengerti sesuai kapasitasnya, bukan sesuai realita.

Tetap tenang.
Tetap berjalan.
Tetap lakukan hal-hal baik meski tidak ada yang tepuk tangan, atau bahkan cemooh sinis sekalipun.

Karena pada akhirnya, pepatah lama yang sering dianggap klise ternyata mengandung kebijaksanaan paling sarkas sekaligus paling elegan:
“Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.”

Yang ribut biarkan ribut.
Yang iri biarkan panas.
Yang salah paham biarkan bingung.
Hidup ini terlalu singkat untuk dikelola dari komentar orang lain.
Kita bukan manager opini publik.

Kita cuma manusia yang sedang mencoba hidup dengan damai.
Dan damai itu datang ketika kita berhenti meminta dunia memahami kita—
dan mulai memilih untuk memahami diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *