KETIKA LO DATANG ONTIME, TAPI RUANG PRAKTEK MASIH DIISI SEJAWAT — RASA “GA SREG” YANG SEBENARNYA VALID SECARA ILMIAH

Spread the love

Ada drama kecil di dunia klinik yang kadang muncul tanpa permisi. Lo datang ontime, bahkan lebih cepat biar kelihatan profesional. Lo bawa kopi, bawa semangat, bawa rencana. Tapi begitu buka pintu ruang praktek, jreng!—sejawat sebelum lo masih duduk di kursi, ngelarin dua atau tiga berkas, sambil bilang, “Sebentar ya…”

Secara mulut lo senyum. Secara sikap lo chill. Tapi secara batin… ada yang nusuk halus. Bukan marah, bukan benci, tapi “kok kayak bukan giliran gue, padahal ini udah jam gue?”
Itu rasa ga sreg yang muncul dengan cara elegan tapi cukup kuat untuk bikin lo mikir sepanjang kopi lo belum habis.

Fenomena ini ternyata sangat “ilmiah”. Dalam psikologi kerja, ada mekanisme bernama role boundary friction—gesekan batas peran yang muncul saat ekspektasi lo berbenturan dengan realita lapangan (Katz, 1978). Lo datang dengan skema mental “ini shift gue”, tapi ruang kerja masih “shift dia”. Otak lo langsung nge-trigger alarm kecil: “Ini kok beda dari yang gue prediksi?”

Rasa ga sreg lo makin lengkap dengan bumbu budaya. Kita hidup di budaya yang menjunjung harmoni dan menghindari friksi langsung, alias budaya sungkan (Hofstede, 2011). Meskipun secara jadwal lo berhak masuk, secara budaya lo merasa perlu “ngalah”. Jadilah situasi ambigu: lo punya hak, tapi lo menahan diri—dan campuran dua hal ini bikin perasaan lo ruwet.

Yang sering tidak disadari orang luar adalah bahwa ruang praktek bukan sekadar ruangan. Ia adalah territorial identity, simbol profesionalisme, batas kedaulatan kerja, dan area personal seorang dokter (Altman, 1975). Ketika batas itu tergeser—even sebentar—otak menafsirkannya sebagai gangguan, bukan sekadar ketidakteraturan kecil.

Secara etik klinis, apa yang dilakukan sejawat sebenarnya baik: dia menyelesaikan pasien sampai tuntas. Ini termasuk clinical overlap, situasi di mana dokter menyelesaikan transisi kasus untuk menghindari pelayanan terputus (Bickley, 2013). Namun tanpa koordinasi, overlap ini jadi operational bottleneck, penyumbatan alur yang memengaruhi ritme kerja dokter berikutnya (Porter, 2010).

Di sisi emosional, rasa ga sreg itu lahir dari gesekan antara profesionalisme dan keinginan untuk saling menghormati. Lo ingin memulai tepat waktu, tapi lo juga tidak mau terlihat tidak solider. Lo menghargai sejawat, tapi lo juga ingin dihargai. Lo paham situasi, tapi tetap terganggu. Ironinya, ini sangat manusiawi.

Dan karena masalahnya bukan “siapa salah”, tapi “alur yang belum rapi”, sebenarnya sah banget kalau lo ingin membicarakan ini ke manajemen. Dalam manajemen pelayanan, persoalan mikro seperti ini harus diangkat agar tidak berubah jadi friksi antar-profesi (Mintzberg, 2009). Tanpa laporan, manajemen cuma melihat semua tampak normal dari lantai dua—padahal di lapangan ada yang seret.

Di sinilah masuk harapan terbesar semua tenaga klinis: manajemen harus bikin aturan yang jelas, tertulis, tegas, dan disosialisasikan.
Entah mau disebut SOP, pedoman operasional, keputusan owner, atau aturan internal—yang penting dokumennya clear dan berlaku buat semua yang terlibat pelayanan tanpa kecuali. Aturan bukan dibuat untuk mengekang, tapi untuk merapikan alur. Dan tanpa aturan yang sama-sama dipahami, setiap transisi shift akan selalu berpotensi jadi area abu-abu.

Aturan yang komunikatif bisa membunuh rasa ga sreg sebelum lahir.
Bisa mencegah interpretasi liar.
Bisa bikin semua orang nyaman.
Dan yang paling penting: bisa menjaga profesionalisme tanpa mengorbankan rasa hormat antar sejawat.

Karena sejujurnya, kita ini bukan kesel sama orangnya.
Kita kesel sama situasi yang tak terstruktur.
Kita bukan marah karena ruang dipakai lebih lama.
Kita cuma pengen alur yang jelas dan saling menghormati.

Pada akhirnya, seorang dokter cuma ingin bekerja dalam ritme yang terjaga.
Ruang yang memang disiapkan untuknya.
Shift yang dimulai tepat waktu.
Serta sistem yang mendukung, bukan membebani.

Kadang masalah terbesar bukan pada siapa yang duduk di kursi itu.
Tapi pada aturan yang belum disusun dengan baik—dan manajemen yang belum turun menangkap suara halus dari bawah.

Dan selama aturan itu belum ada, rasa ga sreg itu akan selalu muncul.
Tenang… itu bukan kelemahan.
Itu tanda bahwa lo peduli pada profesionalisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *