KENAPA ORANG TUA MERASA “JAUH” SAAT ANAK MULAI MENJAUHI? — RASANYA LEBIH SAKIT DARI YANG LO BAYANGIN

Spread the love

Ada satu momen dalam hidup yang datang tanpa notifikasi: saat orang tua—khususnya ayah—tiba-tiba ngerasa anaknya mulai menjauh. Yang biasanya cerita panjang lebar, mendadak cuma jawab “oke”. Yang biasanya pulang sambil ngoceh random, sekarang langsung masuk kamar. Yang dulu minta pendapat, kini lebih percaya Google daripada bapaknya sendiri.

Dan di titik itu, seorang ayah mulai ngerasain sesuatu yang aneh tapi familiar: sepi yang tidak pernah dia antisipasi.

Dalam psikologi keluarga, fenomena ini disebut emotional distancing, masa di mana anak membangun identitas dan batasannya sendiri (Bowen, 1978). Masalahnya, otak anak dan otak ayah memproses ini beda jauh. Buat anak, ini normal. Buat ayah? Ini kayak kehilangan peran yang selama puluhan tahun dia banggakan.

Ayah yang dulu berdiri paling depan sebagai pelindung keluarga, tiba-tiba merasa tidak lagi dibutuhkan.
Ayah yang dulu jadi tempat bertanya, sekarang hanya jadi nomor terakhir yang dihubungi.
Ayah yang dulu tegas, sekarang cuma nunggu kabar yang tak kunjung datang.

Dan di balik sikap diamnya, ada perasaan yang jarang kita sadari: jatuh harga diri.

Dalam kajian self-worth theory, rasa berharga seseorang sangat dipengaruhi apakah dia merasa punya kontribusi atau tidak (Covington, 2000). Ketika anak makin jauh, seorang ayah merasa kontribusinya mengecil. Bahkan kadang dia bertanya dalam hati, “Apa gue gagal jadi orang tua?”

Padahal, lucunya, anak menjauh bukan karena tidak cinta—tapi karena sedang belajar berdiri.
Tapi ayah tetap merasa: tertinggal.

Secara neurologis, otak ayah dibangun dengan naluri proteksi—bukan curhat (Taylor, 2012). Jadi begitu anak kelihatan nggak butuh perlindungan, yang terasa bukan bangga… tapi kosong.
Dan kekosongan itu menyakitkan.
Menyakitkan dengan cara yang diam.
Diam tapi memakan hati.

Kalau lo pernah ninggalin chat ayah lo cuma dengan “nanti ya”, sebenarnya ada kemungkinan dia duduk lama sambil mikir, “kenapa ya sekarang anak gue beda?”
Ayah bukan tidak peka. Ayah cuma tidak pandai mengatakannya.
Rasa rindunya berubah jadi tanya dalam diam.

Ayah itu aneh.
Waktu lo kecil, dia takut lo jatuh.
Waktu lo besar, dia takut lo menjauh.
Dan dua-duanya bikin dia susah tidur.

Dalam teori attachment, orang tua memaknai kedekatan sebagai bukti keberhasilan dalam membesarkan anak (Ainsworth, 1985). Jadi ketika jarak mulai muncul, mereka merasa kehilangan pijakan.
Ayah bukan takut anaknya mandiri.
Ayah takut anaknya tidak lagi melihat dirinya sebagai tempat pulang.

Ironinya, banyak ayah memendam hal ini sendirian.
Karena generasinya dibesarkan dengan pesan: “Laki-laki tidak boleh lemah.”
Padahal di balik pesan itu, ada hati yang cuma ingin didengar sekali saja.

Dan di sini lo mungkin baru sadar:
Begini rasanya orang tua lo waktu lo hilang kabar berhari-hari.
Begini rasanya hati mereka waktu lo lebih percaya teman daripada rumah.
Begini rasanya waktu lo pikir mereka terlalu cerewet, padahal mereka cuma takut kehilangan ruang.

Makin gede lo, makin sedikit mereka bisa mengajar.
Makin mandiri lo, makin kecil peran mereka.
Dan bagi seorang ayah, kehilangan peran itu sama aja kehilangan bagian dari dirinya.

Jadi kalau suatu hari ayah lo tiba-tiba tanya, “Gimana kabarmu?” Itu bukan basa-basi. Itu teriakan halus dari seseorang yang sedang berusaha tetap dekat secara elegan.
Kalau dia nanya, “Pulang jam berapa?” itu bukan kontrol. Itu cemas yang dibungkus gaya sok tenang.
Dan kalau dia hanya diam, itu bukan karena dia tidak peduli. Itu karena dia takut salah cara mendekat.

Ayah tidak butuh dipuja.
Ayah hanya butuh diyakinkan: bahwa di hidup lo, masih ada ruang untuknya.
Tidak besar, tidak mewah—cukup ruang kecil yang membuatnya merasa tidak hilang.

Karena hubungan orang tua dan anak itu unik:
yang satu membesarkan dengan seluruh jiwa,
yang satu tumbuh tanpa menyadari betapa cepat waktu berlari.

Dan pada akhirnya, mungkin ini satu-satunya kalimat yang harus lo simpan:
Kadang, yang paling butuh lo hampiri bukan dunia—tapi ayah lo yang diam-diam sedang belajar merelakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *