HUBUNGAN DARAH ITU ANEH: BISA RETAK, TAPI NGGAK BISA PUTUS

Ada hal-hal di hidup ini yang bisa lo akali: password, tagihan, bahkan perasaan sendiri. Tapi ada satu hal yang nggak bisa lo rekayasa—hubungan darah. Lo boleh marah sama orang tua, lo boleh ngeblok WA mereka, lo boleh nggak pulang setahun, tapi tetap aja… di dalam tubuh lo, ada DNA mereka yang ikut tidur, ikut makan, ikut kerja lembur bareng lo.
Dalam psikologi keluarga, ikatan biologis itu bukan sekadar “hubungan resmi”. Ia adalah residu emosional yang melekat sejak lo belum bisa ngeja nama sendiri. Attachment itu terbentuk bukan waktu lo sadar, tapi waktu lo cuma bisa nangis dan berharap ada yang gendong (Bowlby, 1969). Makanya, hubungan antara anak dan orang tua tuh bukan kontrak—dia lebih mirip bekas luka yang sembuh tapi masih ada jejaknya.
Secara neurobiologi, otak lo terbentuk dari “interaksi awal” dengan figur pengasuh. Bahkan kalau relasinya buruk, bekasnya tetap ada dalam struktur limbik lo (Schore, 2001). Lucunya, inilah alasan kenapa seseorang bisa sangat membenci orang tuanya, tapi tetap terpelintir batinnya saat dengar mereka sakit. Bukan karena drama, tapi karena otak lo udah keburu diprogram begitu dari pabrik.
Masalahnya, manusia itu sering pengen yang instan. Begitu hubungan orang tua–anak retak, banyak yang berharap ada tombol reset. Ingin merasa: “Dia bukan lagi ayah/ibu gue.”
Sayangnya, ilmu nggak pernah mendukung fantasi itu.
Secara akademik, tidak ada istilah mantan anak atau mantan orang tua.
Yang ada cuma estranged, alias berjauhan emosional tapi tetap terkait secara biologis (Ainsworth, 1985).
Ironinya, bahkan hukum pun lebih realistis daripada ego manusia. Pengadilan bisa cabut hak asuh, bisa hapus hak waris, bisa mindahin wali, tapi satu hal yang nggak pernah bisa dihapus adalah fakta bahwa darah itu tetap mengalir dari sumber yang sama. Adopsi pun tidak menghapus hubungan biologis—hanya memindahkan struktur kewajiban (UU 35/2014). Artinya, hukum pada dasarnya bilang, “Lo boleh marah, boleh jauh, tapi data biologisnya tetap segitu-segitu aja.”
Di titik inilah satirnya muncul:
Manusia bisa memutus pertemanan dengan sekali klik, tapi tidak bisa memutus asal-usul.
Manusia bisa membangun persona baru di luar rumah, tapi tubuhnya tetap membawa jejak yang sama.
Manusia bisa membenci, tapi tidak bisa sepenuhnya berhenti peduli.
Karena hubungan biologis itu kayak jejak tinta di kertas yang paling dalam. Bisa lo timpa dengan cat putih, tapi kalau diterawang pakai cahaya, bekasnya tetap kelihatan.
Yang bikin perih adalah hubungan batin. Ia tidak tunduk pada logika. Ia tertanam lewat ribuan momen kecil: cara orang tua memandang lo saat lahir, cara mereka panik waktu lo demam, cara mereka lega waktu lo pulang telat tapi selamat. Momen kayak gitu membentuk emotional memory yang bersifat implisit (Stern, 1995). Walau lo ingin membuangnya, ia tetap bernafas diam-diam di balik tulang rusuk.
Dan kalau lo perhatikan, tidak ada satu pun manusia yang benar-benar “lepas” dari orang tuanya. Bahkan orang yang paling jauh sekalipun masih membawa perang batin yang sama:
kenapa hubungan itu bisa begini?
kenapa gue masih kepikiran?
kenapa gue masih sakit padahal gue udah dewasa?
Jawabannya sederhana tapi menyakitkan:
karena hubungan biologis dan hubungan emosional itu dijahit pada titik yang sama.
Mereka bisa koyak, bisa aus, bisa disimpan dalam kotak luka… tapi tidak bisa dibatalkan.
Dan di sini ada pesan penting yang sering diabaikan: siapa pun, dalam bentuk apa pun, jangan pernah mencoba membatalkan hubungan batin—apalagi hubungan biologis. Itu bukan wilayah manusia. Itu bukan sesuatu yang bisa diputus lewat kemauan, dokumen, amarah, atau jarak. Setiap usaha untuk “membatalkan” hubungan darah hanya akan melukai diri sendiri lebih dalam, karena lo sedang berperang melawan sesuatu yang sudah menempel di struktur dasar identitas satu makhluk bernama manusia.
Pada akhirnya, hubungan darah adalah paradoks paling manusiawi.
Dia bisa bikin bahagia, bisa bikin patah, bisa bikin lo tumbuh, bisa bikin lo runtuh.
Tapi satu hal yang pasti:
dia tidak bisa dihapus.
Dia hanya bisa dihadapi—dengan segala kompleksitas, luka, nostalgia, dan kenyataannya.










