APAKAH HUBUNGAN BUTUH ATURAN, ATAU KITA YANG TERLALU TAKUT BERANTAKAN?

Spread the love

Hubungan itu kadang mirip aplikasi baru: begitu di-install, langsung muncul pop-up “izin akses”. Mau hubungan pertemanan, pekerjaan, atau percintaan—selalu ada aturan yang entah siapa yang menciptakan. Pertanyaannya: makin banyak aturan, hubungan makin sehat… atau makin sesak?

Secara teori, batasan itu penting. Dalam psikologi relasi, batasan disebut sebagai boundary, yaitu garis sehat yang memastikan identitas dan kenyamanan tiap orang tetap aman (Katherine, 2018). Tapi masalah muncul ketika boundary berubah jadi manual book hidup. Yang satu pengen begini, yang lain melarang begitu. Yang satu memasang aturan demi ketenangan, yang lain merasa sedang dipenjara.

Dan di sinilah hubungan mulai terasa kayak kontrak kerja penuh pasal.
“Harus kabarin tiap jam.”
“Jangan dekat sama si A.”
“Kalau pergi harus izin.”
“Kalau kesel jangan diem.”
“Kalau bahagia harus bareng.”

Lama-lama, bukan cinta yang tumbuh—tapi kecemasan akut.

Secara akademik, hubungan dengan terlalu banyak aturan menciptakan perceived control, di mana satu pihak merasa harus memegang kendali atas perilaku pihak lain (Skinner, 1996). Ini bikin hubungan tidak lagi berlandaskan kepercayaan, tetapi ketakutan. Dan ketakutan itu, kalau dibiarkan, berubah jadi pasir halus yang perlahan merusak fondasi.

Masalahnya, manusia suka merasa aman lewat kontrol. Ada rasa puas saat bisa “mengatur” hal-hal yang tidak pasti. Padahal dalam hubungan, kontrol itu ilusi. Yang ada hanya dua manusia yang sama-sama rapuh, sama-sama ingin dipahami, dan sama-sama takut kehilangan. Tapi alih-alih jujur akan hal itu, kita kadang memilih jalur instan: bikin aturan.

Aturan memang bisa menjaga batas—tapi berlebihan, justru menjauhkan dua orang. Hubungan berubah jadi kayak jalan tol: rapi, jelas, tapi penuh rambu dan tidak ada spontanitas. Padahal, menurut kajian hubungan sehat, keintiman itu tumbuh dari fleksibilitas emosional, bukan dari ketertiban militansi (Prager, 1995).

Hubungan yang baik tidak diukur dari banyaknya larangan, tapi dari bagaimana dua orang bisa bernegosiasi tanpa saling menekan. Bukan siapa yang boleh melakukan apa, tapi bagaimana dua insan saling memerdekakan.

Karena jujur aja, batasan yang terlalu ketat membuat hubungan kehilangan ruang bernapas.
Semakin lo memperketat aturan, semakin kecil ruang yang tersisa untuk menjadi diri sendiri.
Dan ketika seseorang tidak bisa jadi dirinya sendiri, hubungan itu pelan-pelan mati—bahkan tanpa pertengkaran.

Hubungan itu butuh batas, iya.
Tapi batas yang lahir dari kesadaran, bukan kecemasan.
Dari kedewasaan, bukan rasa memiliki berlebihan.
Dari empati, bukan rasa takut ditinggalkan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan yang paling banyak peraturannya, tapi yang paling banyak ruang saling mengerti. Ruang untuk bertumbuh, bukan hanya bertahan. Ruang untuk percaya, bukan hanya mengawasi. Ruang di mana dua orang tidak sekadar saling punya, tapi saling menghargai.

Dan kalau boleh jujur, seringkali hubungan tidak rusak karena kurang aturan…
tapi karena terlalu banyak hal yang dipaksa diatur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *